Gelombang Lautan Jiwa: ODGJ dan Stigma
| Sumber: Google Image |
Siapa disini yang pernah ngerasa takut kalau ngeliat orang gila? If you said yes, well tbh me too. Aku hanya berusaha untuk tetap tenang ketika mereka berjalan di hadapanku, tapi sebenarnya khawatir juga. See? Kita semua berantisipasi.
Tapi pernah tidak berpikir apa yang sebenarnya mereka rasakan atau pikirkan? Pernah tidak berpikir jika mereka juga ingin sembuh dan menjadi normal? Dan berbagai macam pemikiran lainn yang muncul di kepala kamu ketika melihat mereka lewat atau melintas.
Jujur aku tidak berpikir seperti itu. Aku hanya berpikir bahwa pikiran mereka memang tidak normal dan saraf mereka terganggu. Sampai akhirnya aku membaca buku Gelombang Lautan Jiwa, sebuah psikomemoar tentang seorang ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) pengidap skizofrenia dan anti-sosial. Buku ini membuka pikiranku bagaimana memandang dan memperlakukan orang gila seharunya.
Sebenarnya aku tidak perlu takut, aku tidak perlu khawatir apalagi sampai menghindar. Karena sebenarnya mereka tidak akan bertindak kasar jika kita tidak mengganggu atau merendahkannya. Seperti manusia normal, mereka masih memiliki perasaan. Hanya saja akal mereka sedikit menyimpang sehingga mereka disebut disabilitas mental.
***
Sebelum ke bagian sinopsis, aku mau memberitahu dulu 3 alasan kenapa aku membaca buku ini.
- Rekomendasi Teman
Aku merasa sangat beruntung karena temanku memberikanku buku bacaan miliknya saat aku kehabisan buku bacaan. Salah satu diantaranya adalah Gelombang Lautan Jiwa yang berhasil merubah bagaimana aku berpikir soal orang gila.
- Menyukai True Story
Membaca kisah nyata artinya belajar memahami emosi dan berempati terhadap orang lain dan lingkungan sekitar tanpa perlu mengalaminya sendiri. We will learn a lot.
- Tertarik dengan Isu Kesehatan Mental.
Pada dasarnya, ada banyak orang yang secara tidak sadar mengidap gangguan mental dan sebagian yang menyadari terlalu takut untuk bicara sedangkan sisanya –yang sedikit- berani melapor ke psikolog. 3,7% orang/populasi menderita depresi dan 1,7% menderita skizofrenia. Secara personal, aku pernah mengalami tekanan yang mungkin membawaku tertarik membahas isu ini. Joker is real! Wkwkwk...
***
Diceritakan Anta Samsara merupakan anak bungsu yang hidup dari keluarga menangah ke bawah. Ayahnya hanya seorang guru yang gajinya pas-pasan, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup ibunya harus berjual kue. Sebagai anak bungsu, kelahiran Anta awalnya tidak diinginkan oleh Ibunya. Sempat melakukan percobaan aborsi berulang kali namun gagal, Ibunya harus menerima takdir bahwa anaknya akan lahir.
Anta adalah anak yang cerdas dan tumbuh dalam lingkungan yang cukup baik. Ia berperilaku seperti anak normal pada umumnya, hanya saja ketertarikannya untuk menyendiri jauh lebih besar daripada bersosialisasi. Sampai suatu ketika ia dimarahi ibunya karena bermain korek api dan diminta untuk pulang kerumah. Ia dilarang lagi bermain dengan anak tetangga.
Sejak hari itu, rasa nyaman di dalam rumah berubah menjadi tidak menyenangkan ketika ia sering mendengar Abangnya dipukuli dan dimarahi. Anta merasa ada yang berbeda di dalam dirinya, mungkin karena ia sering berada di dalam rumah. Maka ia pun memutuskan untuk pindah kerumah kakak pertamanya dan menjaga keponakan.
Tapi apa yang dialami Anta justru dilauar dugaan, kakak iparnya mulai berperilaku tidak baik padanya. Lewat penuturannya, ia sering diludahi dan di caci maki. Sehingga ia memutuskan untuk kembali pulang kerumah Ibunya. Di sana ia menjelaskan alasan ia pulang, tetapi keluarga tidak ada yang mempercayainya. Kakak pertamanya membujuk ia kembali untuk tinggal bersama, tetapi Anta tidak berkenan.
Bukannya membaik, di rumah ia justru mengalami perlakuan yang sama oleh tetangga di sekitarnya. Semakin hari memburuk hingga Anta tidak sanggup dan memutuskan untuk hidup berpindah-pindah dari mesjid ke mesjid. Tapi hinaan dan ejekan tidak kunjung mereda dan ia memutuskan untuk kembali kerumah.
Menyadari bahwa ada yang tidak benar dari dalam dirinya. Anta mulai mencari pengobatan ke psikiater. Semenjak hari itu, akhirnya ia tahu bahwa ia mengidap skizofrenia (gangguan halusinasi) dan anti sosial. Kisah perjalanan Anta yang panjang mengantarkannya kepada berbagai macam rumah sakit dan juga penyembuhan tradisional.
Dalam kisah penyembuhan tradisional, Anta melihat dan mengalami berbagai penyiksaan tidak masuk akal. Namun karena Anta cukup cerdas, ia memiliki berbagai macam alibi untuk mengelabui pemilik dengan tutur kata. Hingga akhirnya Anta memutuskan keluar dari lokasipertama, dan kabur dari lokasi kedua.
Kepergian 3 orang paling ia sayangi, yakni abang, ibu dan ayahnya membuat Anta hampir putus asa secara materi dan mental. Hingga ia sempat memutuskan bunuh diri dengan menelan seluruh pil psikoterapi yang berhasil membuatnya masuk UGD.
Menyadari bahwa Tuhan memberikan alasan kuat untuk membiarkannya hidup, Anta yang terketuk hatinya berusaha bangkit dan merangkul orang senasib dengan mendirikan Yayasan Jiwa Sehat yang sama-sama dibentuk oleh pasien ODGJ lainnya.
***
Kelebihan buku:
- Tulisan Terorganisir dan Baku.
Aku takjub dengan bagaimana Anta menulis kisahnya sendiri. Sebagai ODGJ ia bahkan memiliki kemampuan lebih dari orang lain yang mampu menulis. Tulisannya rapi, tertata bahkan ia memberikan catatan kaki bagi yang tidak mengerti istilah daerah dan ilmiah.
- Unik, Spesifik, dan Detail.
Karena kisah ini ditulis berdasarkan psikomemoar, maka aku bisa mengatakan bahwa tulisan ini sangat unik, spesifik dan detail. Cerita berdasarkan pengalaman pribadi sehingga spesifik pada apa yang Anta rasakan dan alami. Cara ia menulis ceritanya juga cukup unik, terlebih di bagian epilog yang menjadikan dinten (buku harian)sebagai tokoh utama dengan sudut pandang orang utama.
- Ejaan, Penulisan Kata, dan Penyusunan Kalimat Hampir Sempurna.
Aku tidak menemukan kesalahan ketik, tidak menemukan tulisan yang cacat, kalimat yang terbalik dan penyusunan yang salah. Semuanya hampir cantik dan rapi sekali. Bagaimana kaidah menulis sesuai EYD, aku pikir Anta melakukan yang terbaik.
Kekurangan buku:
- Bahasa Kurang Ringan.
Jika untuk ukuran sebuah catatan harian, aku pikir bahasa yang digunakan Anta cukup berat dan kaku. Ia menuliskannya sesuai dengan anjuran KBBI bahkan dialog pun menggunakan bahasa baku. Padahal kalau kita berbicara, bahasa yang kita gunakan adalah bahasa sehari-hari yang ringan.
- Sulit Mendeskripsikan Jenis Buku.
Aku secara personal, sulit membedakan jenis buku apa yang tepat untuk disematkan ke dalam buku ini. Beberapa poin menerapkan prinsip novel, tetapi disisi lain ada unsur biografi. Seperti, alur, tokoh, dialog, bagian per bagian menerapkan prinsip novel. Tetapi, umumnya novel adalah karya fiksi. Sedangkan jika dikatakan ini biografi, perjalanan dan riwayat hidup seorang Anta tidak diberitahu secara jelas. Pun Anta Samsara adalah nama samaran.
- Klimaks Kurang Emosional.
Bagian akhir kisah ini kurang emosional, kendati ia menjelaskan bahwa ia melakukan percobaan bunuh diri. Tetapi, di bagian awal sudah diberitahukan sepotong kalimat pendek tentang bagaimana Anta nantinya akan bunuh diri. Sehingga konfilk akhir sudah tidak mengejutkan lagi. Ditambah dua bab terakhir lebih menjelaskan soal bagaimana yayasan yang ia bangun dan berkembang.
***
- Judul: Gelombang Lautan Jiwa
- Penulis: Anta Samsara
- Penerbit: Elex Media Komputindo
- Tahun terbit: 2012
- Cetakan: Pertama
- Tebal: 210 hal.
- Harga: Rp. 37.500 (e-book Gramedia)
- Rate: 9/10
***
Di akhir, aku cuma ingin menyampaikan bahwa buku ini benar-benar merubah bagaimana aku berpikir tentang orang gila. Bagaimana stigma masih melekat kuat di masyarakat bahwa orang gila dimasuki jin, tidak punya iman yang cukup kuat, dan lain-lain.
Kita sebagai manusia normal terkadang lalai untuk berpikir terbuka dan menjadi manusia yang penuh syukur. Seringkali kita di bentuk berdasarkan apa yang sudah ada di masyarakat. Apa yang salah menurut masyarakat berarti salah, begitu pula sebaliknya.
Kisah Gelombang Lautan Jiwa menohok tepat di ulu hati, soal bagaimana orang sekitarku memperlakukan orang gila dengan jijik, takut, dan penuh antisipasi. Bahkan menakuti anak kecil yang sering bermain untuk tidak keluar rumah karena ada banyak orang gila.
Orang gila bukan dosa yang harus dihindari, mereka bukan barang yang harus dibuang. Manusia akan tetap menjadi manusia, sekalipun akalnya sirna tetapi hatinya utuh meminta cinta.
Bagaimana kita memperlakukan orang gila selama ini, menurutku ini adalah cerminan bahwa sebenarnya cinta kita masih tipis hanya sebatas simbiosis mutualisme.
Dunia memang tidak selalu baik, bahkan kadang sangat kejam sehingga kita menjadi dendam. Tapi yang perlu kita lakukan adalah cukup menjadi tulus menebar kasih sayang.
Tuhan tidak tidur, dan Ia tahu manusia-manusia berhati jujur.
***
Segitu aja resensi kali ini. Kalau kalian pernah baca buku ini, boleh share di kolom komentar tentang pendapat kalian. Sampai ketemu di episode resensi lain.
Thank u and see u. :)


Komentar
Posting Komentar