Srikandi dan Nilai Feminisme yang Dapat Dipetik
Sumber: pinterest.com
Srikandi merupakan sebuah nama yang tidak asing bagi telinga orang Indonesia. Hampir semua orang yang mendengar nama tersebut, besar kemungkinan akan mengaitkannya dengan sosok wanita tangguh dan berani. Sosok pahlawan wanita dalam kisah pewayangan Jawa (epos Mahabharata) ini sering dijadikan nama sebuah lokasi, jalan, hingga judul film. Bahkan sebuah film yang dibintangi oleh Chelsea Islan, Bunga Citra Lestari dan Tara Basro pada tahun 2016 diberi judul serupa, yakni 3 Srikandi. Film tersebut berkisah tentang tiga atlet panahan asal Indonesia yang berhasil meraih medali pertama di ajang olimpiade. Tapi, siapakah Srikandi sebenarnya? Lantas bagaimana perempuan masa kini bisa mengambil contoh dari pribadinya yang tangguh? Nah, tulisan kali ini akan membantu kita memahami sosoknya dan perilaku apa yang bisa dijadikan contoh darinya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Alkisah, Srikandi adalah seorang putri dari pasangan Prabu Drupada dan Dewi Gandawati. Pasangan suami istri tersebut menginginkan kelahiran seorang anak secara normal karena kedua kakak Srikandi, yakni Dewi Drupadi dan Drestadyumna dilahirkan melalui puja semadi atau ritual tertentu. Drupadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api menjelma menjadi Drestadyumna.
Sejak kecil, Srikandi sudah gemar dalam olah kanuragan (ilmu keprajuritan) dan mahir bermain senjata karena banyak menghabiskan waktu bersama Arjuna. Kebersamaan tersebut kemudian menumbuhkan benih cinta dan kedua sejoli tersebut akhirnya menikah hingga dikaruniai seorang putra.
Srikandi kemudian menjadi suri tauladan wanita dalam epos Mahabharata karena ia bertanggung jawab penuh atas keselamatan dan keamanan ksatria Madukara (kerajaan Arjuna) beserta segala isinya. Dalam perang Baratayuda (perang sengit antara Pandawa dan Kurawa), Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa. Dengan panah saktinya, Hrusangkali, ia pun menewaskan Bisma, salah seorang tokoh utama yang berada di pihak Kurawa. Namun nahas, hidup Srikandi berakhir di tangan Aswatama setelah perang Baratayuda usai.
Demikianlah cuplikan singkat dari kisah Srikandi. Oleh karena itu, wajar halnya jika nama Srikandi membudaya dalam kehidupan masyarakat. Nama tersebut menjadi semakin familiar dan sering dipergunakan sebagai ungkapan terhadap seorang wanita heroik, penuh semangat, dan pantang menyerah dalam mengupayakan sebuah kemajuan serta menebar manfaat.
Maka dari itu, ada banyak analogi Srikandi yang digunakan untuk mendefinisikan wanita kuat dan bertanggung jawab dalam kehidupan nyata. Sosok Srikandi juga dapat dijadikan sebagai acuan dan memiliki nilai-nilai yang dapat diimplementasikan oleh wanita Indonesia dalam perilaku sehari-hari. Kalau nilai-nilai ini diterapkan dengan baik, maka tidak mustahil rasanya bahwa kesetaraan gender dapat meningkat dan wanita tidak lagi diremehkan.
Berikut ini merupakan beberapa nilai yang dapat dipetik dari tokoh pewayangan Srikandi, yakni:
- Menguasai Keahlian Serupa dengan Lelaki
Keahlian militer, menggunakan senjata, berperang, dan menjadi pemimpin pada umumnya sangat identik dengan laki-laki. Tetapi Srikandi menunjukkan bahwa ia bisa menguasai keterampilan tersebut dan menjadi tak terkalahkan. Sehingga nilai ini dapat memotivasi perempuan untuk memutus rantai stigma bahwa perempuan lemah dan tidak bisa memimpin. Perempuan juga bisa bangkit dan memberi kontribusi terbaik untuk masyarakat sebagaimana yang dilakukan oleh Srikandi.
- Memiliki Kemampuan Bela Negara
Kisah Srikandi ketika berperang melawan Prabu Jungkung Mardeya untuk menyelamatkan negara dan kerajaan Pancala dapat dijadikan inspirasi bahwa perempuan juga memiliki kewajiban dan kemampuan untuk melindungi negaranya sendiri. Jika Srikandi melindungi negara dengan berperang, maka perempuan masa kini dapat melakukannya dengan cara lain seperti menjadi cendekiawan, relawan, negarawan, atlet dan banyak cara lain yang bisa membuat sebuah negara bangga.
- Dapat Menguasai Berbagai Bidang
Dibalik sosok tangguhnya, Srikandi tidak lupa bahwa ia juga seorang ibu. Nilai ini tentu patut dicontoh karena perempuan mestinya tidak harus memilih. Ia bisa menjadi panglima perang sekaligus ibu. Sehingga perempuan masa kini juga bisa mengenyam kedua hal tersebut, menjadi ibu rumah tangga sekaligus bekerja meniti karir. Implementasi perilaku seperti ini dapat melunturkan sosok perempuan yang katanya hanya melayani suami dan juga mengurus anak. Padahal faktanya, perempuan juga bisa berkontribusi untuk negara dan lingkungan sosial tanpa melupakan kewajibannya dalam rumah tangga.
- Menjadi Independen dan Suka Belajar
Keahlian Srikandi dalam memanah adalah hasil belajar yang konsisten dengan Arjuna sepanjang hari dan terus menerus, ia tidak pernah menyerah sebelum tujuannya tercapai. Hal ini menjadi bukti bahwa ia sangat tidak ingin bergantung pada orang lain. Karakteristik ini dapat menjadi contoh bahwa perempuan juga harus mandiri dan senang belajar agar tujuannya tercapai.
Berdasarkan ulasan di atas, Srikandi menekankan tentang kesetaraan peran, keahlian, serta pencapaian dalam diri wanita dan laki-laki. Ia benar-benar menunjukkan bahwa wanita juga bisa melakukan berbagai hal yang identik dengan laki-laki. Dengan segala kemampuannya, Srikandi telah mematahkan berbagai batasan gender. Nilai-nilai yang dapat dipetik darinya dapat diterapkan di masa kini sebagai inspirasi untuk pendidikan karakter dan pedoman masyarakat Indonesia, khususnya wanita, agar bangkit dan mematahkan struktur sosial negatif yang merendahkan. Jika nilai-nilai tersebut dapat diimplementasikan dengan tepat, tentunya kesetaraan gender dapat tercapai dan wanita akan memperoleh keadilan, tidak lagi direndahkan khususnya oleh budaya patriarki
***
Sumber:
Ariani, I. (2016). Feminisme Dalam Pergelaran Wayang Kulit Purwa Tokoh Dewi Shinta, Dewi Kunti, Dewi Srikandi. Jurnal Filsafat, 26(2), 272. https://doi.org/10.22146/jf.12786
Sholikhah, N., & Masruroh, A. (2019). The Implementation of Feminist Values in Srikandi (Woman Figure on Wayang Story) : A Concept to Develop Gender Equality in Java, Indonesia. Proceeding Book 7th Asian Academic Society International Conference 2019, 510–514. http://aasic.org/proc/aasic/article/view/525


Komentar
Posting Komentar