Jakarta Undercover 4 in 1: Pesta yang Tak Pernah Usai
Apa yang ada dibenak kalian kalau mendengar kata Jakarta? Pernah tidak berpikir bahwa selain keras dan kejam seperti kota besar pada umunya, Jakarta juga liar? Of course you know. But how much? Seberapa liar, kejam, dan keras kota Jakarta sebenarnya? Kita semua tahu bahwa yang namanya kota besar pasti menyimpaan jutaan cerita.
Moamar Emka selaku penulis memberikan suguhan nyata betapa gilanya hiburan dewasa di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan dan wilayah Bali. Semua tulisannya terjadi berdasarkan pengalaman pribadi dan teman-teman serta informasi yang ia dapatkan dari para PSK kelas bawah hingga atas.
Buku ini membuka mataku mengenai bagaimana seorang PSK bekerja dan alasan mengapa mereka bekerja. Bagaimana laki-laki mencari hiburan malam dan mengapa ingin menghibur diri mereka dengan banyak wanita. Selain itu, hal yang akhirnya kudapatkan dari buku ini adalah bahwa selama kamu memiliki kekayaan berlimpah apa saja bisa kamu lakukan. Termasuk menggelar pesta pribadi yang gila, bisnis gelap yang terlindungi, serta hiburan yang tidak pernah berhenti.
Kebanyakan laki-laki yang sering mengunjungi tempat hiburan adalah laki-laki lajang, berduit dan mencari pelampiasan. Sudah bukan rahasia umum, jika hiburan malam menjadi salah satu pilihan melepas penat. Tapi, laki-laki ini tampak tidak pernah kehilangan syahwat karena setidaknya seminggu dua kali pasti pesta sampai pagi.
***
Alasan kenapa aku memilih buku ini:
- PDF Ilegal
Awal mula aku tahu Jakarta Undercover karena sebuah platform di media sosial yang membahas mengenai kehidupan malam. Selesai dari sana, aku coba cari di Google buku PDF Jakarta Undercover. Aku ketemu versi ilegal dengan judul Jakarta Undercover: Sex ‘n The City. Setalah aku baca ternyata isinya cukup membuatku terkejut.
- Film Jakarta Undercover 2016
Setelah sekian lama lupa dengan buku PDF. Aku iseng berselancar di YouTube dan ketemu dengan film fullnya. Meskipun itu ilegal juga, tapi karena sudah terlanjur klik aku tetap lanjut nonton. Unsur dramanya kentara banget, tapi kesamaan antara buku dengan film beda jauh banget. Nah ini yang bikin aku ke-triger untuk beli bukunya.
***
Cerita Jakarta Undercover 4 in 1 di bagi menjadi 4 bab terpisah yang menceritakan secara spesifik sesuai tema. Pertama, Tentang Pesta yang Tak Pernah Usai. Kedua, Jakarta Undercover: Sex ‘n The City. Ketiga, Jakarta Undercover: Karnaval Malam. Keempat, Jakarta Undercover: Forbidden City.
Keseluruhan isi buku adalah gabungan dari buku sebelumnya yang terbagi menjadi empat bagian. Tetapi dibagian awal kita akan diberikan semacam pengantar dari penulis mengenai keseluruhan tulisan yang akan kita baca di bagian selanjutnya.
Seks bukan hanya persoalan yang tabu, tetapi dalam ranah industri ia sudah menjadi permintaan yang tidak pernah habis. Apabila seorang individu menginginkan seks, maka ia bisa datang ke suatu tempat untuk memenuhi kebutuhannya. Sekalipun orang-orang yang datang bukan pelanggan loyal (dalam artian jika suatu saat ia berhenti), konsumen lain akan terus datang meminta jasa yang sama.
Dalam industri seks, tak ubah seperti industri lain. Tren menjadi salah satu hal yang yang mesti di jaga bagi pegiat bisnis malam. Buku yang diriset tahun 90-an ini rasanya masih sangat relate dengan kondisi sekarang. Bahkan beberapa bagian yang kubaca dirasa seperti tidak mungkin terjadi di stuktur masyarakat yang kenal moral, agama, adat dan tata krama dengan sangat baik. Salah satu contoh yang masih kuingat adalah club bawah tanah yang hanya boleh di masuki oleh anggota. Setiap anggota yang datang harus telanjang bulat tanpa busana. Restoran yang menyajikan wanita kelas atas sebagai PSK dan hanya bisa akses oleh kartu anggota.
Bahkan perilaku seks yang menyimpang, bisa kita temui menjadi normal jika sudah berkenaan dengan indutri malam. Ada makanan yang tersaji di atas tubuh pria dan wanitatelanjang, ada seks di dalam mobil yang sedang melaju kencang, ada seks ramai-ramai di kolam renang yang terbuka, dan banyak sekali jenis seks yang bahkan aku sama sekali tidak menyangka terjadi di dunia nyata.
Di sebuah negara dengan penduduk Islam terbanyak di dunia, Indonesia memiliki industri seks yang tak kalah dengan negara gila pesta seperti Belanda, Jerman bahkan Thailand dan Amerika khusunya Las Vegas.
Moamar Emka selaku penulis pun tidak paham mengapa hal ini bisa terjadi. Mengapa ada banyak laki-laki yang rela membayar mahal hanya untuk menikmati tubuh telanjang wanita menari di depannya selama tiga puluh menit, menyewa kamar hotel 1-2 jam hanya untuk berhubungan seks, membeli “jajan” lain saat dirumah sudah ada “jajan” yang lebih baik. Resiko terkena penyakit juga besar, resiko kehabisan uang juga besar, resiko tidak bahagia dan mendapat konflik juga besar.
Apa yang dikorbankan oleh para laki-laki pecinta seks ini bersifat sementara dan adiktif. Layak narkoba yang begitu coba sekali maka akan candu berulang kali. Tapi sejatinya mereka tidak akan pernah berhenti selama mereka memiliki kuasa, materi dan kemauan untuk mencari. Selama permintaan tumbuh, penawaran akan diberikan. Rasa bosan muncul, tren pun hadir meperbaharui. Sehingga industri prostitusi tidak akan pernah berhenti dan akan terus mengembangkan diri.
Perkembangan industri seks nyatanya tidak hanya di banjiri oleh kaum hawa, tetapi juga oleh kaum adam yang harus memenuhi permintaan seks wanita. Kebutuhan akan seks yang meningkat dan masyarakat urban yang cenderung sibuk menjadi alasan klise, bahwa tidak laki-laki atau perempuan, jika sudah bicara soal seks semua bisa menjadi lemah.
Alasan seorang wanita ingin menjadi pekerja seksual adalah uang. Sedangkan alasan seorang laki-laki yang menyukai industri malam adalah soal aktualisasi diri. Ini yang menyebabkan dalam industri seks pekerja wanita dan laki-laki perbandingannya adalah 9:1. Artinya, bukan tidak ada wanita yang suka “jajan” tetapi sedikit sekali jumlahnya dibanding laki-laki.
Tanpa kita sadari, kita bisa menemui industri seks dimana saja. Di gedung tidak terpakai, di perumahan elit, di club hotel atau restauran, di pinggir jalan, di hotel singgah, di mobil bahkan di atap gedung atau ruang parkir bawah tanah.
Pekerja yang ditemui juga beragam etnis. Diantara mereka ada yang berasal dari Uzbekistan (favorit), Thailand, Indonesia, Rusia, Latin, Cina, bahkan Korea. Rentang usia 19-25 tahun dan kebanyakan bertubuh tinggi dan ideal. Semakin mahal berarti semakin professional dan diakui pekerjaannya (biasanya model dan aktris yang terkenal).
Penikmat PSK biasanya juga berasal dari kalangan berduit. Seperti eksekutif muda keturunan bule, CEO perusahaan, pemilik usaha, anak orang kaya yang kebanjiran uang dan ekspatriat yang lama tinggal di negara orang.
***
Kelebihan buku:
- Riset yang Baik
Aku tahu benar bahwa untuk menulis ini Moamar Emka melakukan riset bertahun-tahun dengan sangat hati-hati. Ia melakukan riset dengan menjaga nama baik pemilik industri malam, teman-teman, lokasi industri, bahkan PSK itu sendiri. Butuh kecerdasan emosional yang baik untuk bisa masuk ke dalam ranah industri gelap seperti prostitusi. Apalagi di dalam cerita ada bagian di mana ia ikut bersama dengan orang-orang yang terlibat dengan narkoba. Aku pikir bukan sesuatu yang mudah untuk mengatasi itu semua. Tetapi Moamar Emka berhasil melakukannya.
Caranya untuk bisa masuk ke dalam pergaulan malam cukup menarik. Ia bermain dengan sangat cantik dengan tidak merasa jijik apalagi heran dengan perilaku seks yang aneh-aneh. Ia sangat terbuka pada siapa saja yang terlibat dalam risetnya sehingga seolah teman-temannya memberikan akses yang luas. Bahkan sering kali dalam cerita ia jarang membayar hanya untuk tahu industri seks seperti apa, ia cukup mengandalkan teman-temannya yang super tajir dengan rela membayari semua jatah hiburan malamnya.
Pras, nama samaran yang digunakan merupakan sosok yang mampu mengenali siapa yang ia ajak bicara. Benar-benar easy going dan humble. Tidak heran jika ia bisa ngobrol dengan siapa saja, seperti PSK dalam dan luar negeri, pengguna jasa PSK, germo, mami/papi, pemilik club dan banyak lagi.
- Penyajian yang Menarik
Buku ini akan memberikan penyajian seperti sebuah cerita. Pras sebagai tokoh utama dengan sudut pandang orang pertama. Pemeran pembantu adalah teman-temannya yang di tulis dengan nama samaran. Moamar Emka seolah mengajak kita bicara dan bercerita kepada pedengar setianya.
Bagian yang paling kusuka justru ada di bagian pembuka, Moamar Emka menulis:
Untuk Laura
“Apakah wajah yang kau lihat sekarang adalah wajah yang sesungguhnya?”
-Pras, 35 tahun
Di awal aku benar-benar berpikir bahwa tulisan ini akan menjurus pada drama. Tapi sepertinya Moamar tengah jatuh cinta pada gadis PSK yang ia temui saat melakukan riset. Hmmm. Menarik.
Kekurangan buku:
- Penjelasan Kurang Detail
Mungkin beberapa dari kalian yang baca bisa setuju atau tidak dengan pendapatku yang ini. Tetapi, cara Emka menjelaskan adegan per adegan dari tiap kejadian terasa kurang detail.
Misalnya saat berdialog dengan PSK, Emka hanya memberikan penjelasan melalui narasi kemudian sekelumit dialog pendek dari percakapan. Kemudian visualisasi adegan dan objek yang mendukung hiburan malam tidak tergambar dengan baik dalam tulisan.
- Alurnya Kurang Menarik
Entah karena ini gabungan dari 4 cerita yang pernah terbit sebelumnya atau karena memang gaya penulisan Emka. Tetapi aku merasa bahwa tidak ada alur yang jelas mengenai waktu dan lokasi. Sehingga gak ada hal yang membuat aku penasaran melihat adegan lanjutan yang terjadi setelahnya.
Emka hanya bercerita, apa yang terjadi di lokasi A dan seperti apa kejadinnya. Begitupula selanjutnya dengan tema yang berbeda-beda. Rasanya seperti membaca kumpulan cerpen dengan tokoh utama yang sama.
***
Judul : Jakarta Undercover 4 in 1
Penulis : Moamar Emka
Penerbit : Gagas Media
Tahun terbit : 2015
Cetakan : Pertama
Tebal : 396 hal.
Harga : Rp. 25.000 (bekas di Prelo)
Rate : 9/10
***
Setelah selesai membaca ini pikiranku jauh lebih terbuka soal dunia luar dan bagaimana realita kehidupan yang sebenarnya. Bahwa PSK sama saja seperti pekerja kantoran yang realistis soal uang, ada yang menggunakan cara sedikit licik dan ada yang lurus-lurus saja. Tujuan pekerjaan mereka tidak lain dan tidak bukan adalah cara cepat mendapat uang. Menjadi PSK bagai pisau bermata dua, disisi lain sangat membantu mendapatkan uang dengan cara instan tetapi ketika ingin merubah pekerjaan akan sangat sulit dilepaskan.
Meskipun aku tahu diluar semua alasan, PSK tetaplah pekerjaan kurang baik. Tapi mereka jauh lebih jujur dan realistis dibandingkan orang-orang yang hidup dengan adab baik tapi palsu. Bahkan bisa jadi, mereka jauh lebih memiliki hati.
Buku ini juga memberitahuku bahwa, pekerjaan seperti ini banyak dilakukan perempuan karena terhimpit kebutuhan, gaya hidup, dan uang untuk bertahan. Alasan yang paling sering ditemui dari para PSK yang mengaku bisa hidup lebih nyaman setelahnya.
Pengakuan serupa juga di lontarkan oleh PSK kelas bawah Surabaya. Terpaksa bekerja karena kebutuhan hidup, begitu pula penulis anonim Quora yang mengaku masih sering ibadah dan berdoa secara Islami meskipun ia tahu pekerjaannya rendah. Serta cerita Bang Ojol yang mendapat orderan PSK baik hati namun direndahkan oleh satpam karena tidak cukup cantik.
***
Segitu aja resensi kali ini, guys. Kalau kalian pernah baca buku yang sama, boleh komen di bawah dan kasih tahu tanggapan kalian soal buku ini supaya kita bisa bertukar pikiran.
See you!




Komentar
Posting Komentar