Why I Writing?
![]() |
| Sumber: Pinterest |
That I ever tell you my life change since I take a gap year? If no, then this one of the reason why I writing. Okee. Mungkin beberapa teman dekatku pasti tahu kalau mengambil jenjang waktu setahun sebelum masuk kuliah banyak merubah bagaimana aku berpikir dan bersikap mengenai diriku, masa depanku, keluargaku, teman-teman dan orang yang kusayang.
Pasca frustasi karena gagal SNMPTN dan SBMPTN di tambah sikap ibuku yang selalu memintaku masuk swasta, rasanya kepalaku ingin kubentur ke dinding. Aku jadi banyak berpikir dan menulis jurnal harian. Semua isi kepalaku yang penuh seperti sampah aku tuangkan ke dalam kata-kata yang tidak tertata.
Sebuah buku kwarto bersampul merah jambu menjadi jurnal harian sekaligus catatan kusut pelajaran. Buku yang masih kusimpan sampai saat ini berisikan penyetaraan kimia, catatan farmakognosi rasa sediaan obat, integral (I hate math), dan sumpah serapahku soal teman bajingan, hidup yang menyedihkan, cita-cita yang mengambang, guru yang suka pemaksaan and so on... and so on.
Time goes bye and here I am, still writing. But why I keep writing even my life getting better? Why I consistent? Why I want still to do it until I die? What happen to me? Or what happen with write it self? Let me answer one by one down bellow. Don’t go anywhere, guys. :v
- I Doing It Since Little Kid.
Aku sudah suka menulis sejak aku kecil. Ketika aku kecil aku sering mengambil buku catatan hotel yang selalu di bawa pulang ayahku pasca pertemuan setiap minggu, pun pensil dan pena juga demikian. Aku menulis acak khas anak umur 4 tahun seperti benang kusut, angka 1-10, abjad random dan cerita khayalan yang kutulis berparagraf seperti gelombang ombak (beneran gelombang ombak yang tidak ada hurufnya).
Aku kecil adalah anak yang cepat sekali pandai membaca, menulis dan kemampuan literasi lain ditambah bahasa asing. Waktu umur 1,5 tahun aku sudah memanggil ibu dan ayah dengan mak dan pak. Saat umur 4 tahun aku sudah bisa membaca pamflet sederhana bertuliskan Apotek dan ketika TK aku sudah bisa membaca dengan lancar sebuah kalimat; Saya suka apel dan dia suka pisang. Dinding rumah yang berwarna putih merupakan saksi tentang bagaimana aku suka sekali dengan menulis dan menggambar. Aku menulis apa saja yang keluar dari kepalaku, aku menggambar apa saja yang menurutku cantik, dan aku melakukannya dengan mengambil spidol milik ayah. Sampai ayah membelikan sebuah papan tulis putih seperti di sekolah, tapi aku tetap menulis di dinding.
- Writing Change My Life.
It’s clear! Defenitely writing change my life. Aku menemukan dan mengorbankan banyak sekali dari menulis. Sangat banyak sampai aku merasa beruntung bertemu dengan tulisan. Aku tahu bahwa aku masih tidak tahu apa-apa, masih merasa sangat kurang dan tidak puas dengan kemampuanku saat ini. Aku menjadi pribadi yang lancar bicara di depan umum dari menulis, aku menemukan emosi dari diksi yang cantik karena menulis, aku belajar empati, aku menjadi pendengar yang baik, dan aku pun ingin menginspirasi dari menulis. Kukorbankan kesempatan besar karena menulis, kukorbankan tugas kuliah, nongkrong bareng teman, jam rehat dan punggung yang berat karena selalu membawa laptop. Itupun masih sedikit dari banyak hal yang terjadi.
I’m healing through writing and writing it self healing. Sebuah buku jurnal menjadi saksi pertama bagaimana berisiknya kepalaku dapat ditenangkan hanya dengan menuangkan kalimat abstrak dan panjang ke dalam tulisan. Aku sembuh dari jiwaku sendiri karena menulis diksi cantik, puisi dan jurnal harian. Beberapa temanku pasti paham betapa anehnya keluh kesahku terhadap hidup, betapa rumitnya caraku berpikir dan betapa kompleksnya emosi yang kupunya. Aku tidak pernah berhubungan dengan lawan jenis, jadi aku tidak pernah patah hati karenanya. Tapi aku pernah terluka karena banyak kejadian hidup yang tidak kusangka terjadi di depan mata. Lalu tulisan dan buku menyelamatkan hidupku dengan membuka isi kepala dan mengubah bagaimana aku berpikir tentang semua.
- Take Gap Year and Nothing To Do
Seperti yang aku katakan di awal tadi, gap year merubah total bagaimana aku hidup. Sebagai anak sulung, satu-satunya perempuan dan sering sakit-sakitan aku dibentuk menjadi pribadi yang kuat tapi juga paling sering dikhawatirkan. Waktu itu aku ingin melamar kerja, tetapi niat dan keberanianku yang tidak cukup kuat ditambah kekhawatiran orang tuaku akan kondisiku, maka akupun merubah niat.
Masa gap year bagiku secara personal cukup berat. Banyak yang kupikirkan tetapi sedikit yang bisa kulakukan. Aku pikir aku bahagia di dalam rumah, nyatanya tidak juga. Aku tidak punya cukup uang untuk jalan-jalan, aku tidak punya cukup keberanian untuk meminta kepada orang tua yang sedang kesusahan, dan aku pun pernah di tipu seseorang sehingga kehilangan uang ratusan ribu rupiah. Kejadian penipuan ini membuatku sakit hati, karena perilaku orang tuaku yang mengataiku bodoh sampai aku marah dan membenci diriku sendiri. Tapi entah ambisi seperti apa yang muncul, aku mengatakan pada diriku sendiri. Jika di dalam rumah yang katanya aman aku bisa mendapat bencana, aku lebih baik keluar dan melihat dunia. Toh pada akhirnya sama saja. Kalau memang takdir celaka, ya celaka saja. Aku ingin mecoba keluar dari zona nyaman, dan ketika aku melakukannya ternyata aku tetap baik-baik saja.
Tidak ada teman, tidak ada kegiatan, tidak ada tujuan, tidak ada harapan dan hidupku terasa sepi pun juga menyedihkan. Aku ingin mencari sesuatu yang produktif dan bermanfaat. Bisa kulakukan dari rumah, murah dan tidak banyak memakan tenaga.
Here we go, I find writing. Aku berpikir untuk menjadikan Facebook sebagai platform aku menulis motivasi sebelum memahami blog, lalu beranjak ke Blogspot gratisan untuk menulis review buku, kemudian meluncur ke Wattpad untuk menulis puisi dan cerpen.
Since that time, I consistent writing.
***
Aku pernah mengeluh pada Tuhan mengapa kedua orang tuaku tidak menyadari kemampaun dan bakatku sejak dini sehingga aku bisa jauh lebih terlatih dan muncul di permukaan lebih awal. Aku juga pernah berpikir apakah ini passion yang selama ini aku cari untuk menemukan alasanku agar tetap semangat menjalani hidup. Saat aku bertanya hal ini, aku belum menemukan jawabannya. Tapi sekarang aku mengerti dan aku paham.
Jawaban atas pertanyaanku adalah aku tidak apa-apa dan benar aku mencintai tulisan. Tidak apa-apa jika aku mulai menyadari ini saat aku dewasa, tidak apa aku mulai di titik yang berbeda, tidak apa-apa kalau aku belum luar biasa. Toh manusia punya masanya dan mereka mulai dari titik yang berbeda-beda. Aku semangat menjalani hidup dan meraih cita-cita juga karena menulis. Aku mendapat pekerjaan karena menulis, aku mendapat pengakuan karena menulis. Aku menerima baik buruk dari proses menulis. Di akhir yang paling penting adalah aku mencintai seluruh proses dari menulis.
Waktu berlalu dan hidup berubah, aku tetap menulis meskipun caranya berbeda. Setelah semua yang terjadi dalam hidup baik pahit manisnya, kini aku bisa melihat benang merahnya dengan jelas. Tidak ada yang lebih indah dari takdir Tuhan yang sudah digariskan pada umatnya.
Aku merasa cukup, bersyukur sekaligus terharu. Konspirasi alam itu cantik dan kamu hanya perlu peka lebih sedikit untuk melihat bahwa sekitarmu memang mendukungmu dengan baik.



Komentar
Posting Komentar