Why I Read Books

Sumber: Pinterest


Bagi beberapa temanku, udah menjadi rahasia umum kalau aku doyan bawa buku kemana-mana. Sebagai mahasiswa ekonomi yang hobi belajar filsafat, self improvment, sejarah, dan novel. Tentengan tasku isinya bukan cuma laptop, tumblr, dan buku tulis. Tapi, juga sebuah buku bacaan harian (ada yang pernah hilang di toilet kampus). Kebiasaan ini muncul sejak aku melalui masa gap year, tapi ketertarikan untuk membaca buku sudah ada sejak aku kecil.

Waktu kecil, orang tuaku sering membawa kami ke Gramedia hanya sekedar untuk membeli buku dongeng atau kamus bahasa Inggris bergambar. Tapi, konsistensi muncul saat aku mulai kuliah. Menghamburkan uang di Gramedia dan BBW bukan perkara mudah. Apalagi kalau kantong lagi sengsara. Hahahah.

So personally, this is the reason why I read books. Tapi, mungkin ini juga bisa menjadi alasan mengapa kita semua harus membaca buku.

  • Open Up Your Mind

First main reason is because its open up your mind. Semua orang yang suka membaca buku, kebanyakan akan mengatakan bahwa buku membuka pikiran dan wawasan. Bener pake banget, gengs.

Benar bahwa kamu bisa belajar lewat online course, artikel, YouTube and others online platforms. Tapi, tidak ada yang sebaik dan lebih baik daripada membaca buku. Tidak penting apakah kamu meminjam di Ipusnas, IBI Library, dan laman lain. Selama itu buku, maka aku jamin pikiranmu akan berubah.

Buku akan memberimu lebih dari yang kamu minta dan ekspektasikan. Jadi, kalau kamu membeli sebuah novel kisah nyata dan kamu berharap isinya akan menginspirasi kamu. Maka buku itu akan memberikan lebih dari sekedar inspirasi, tapi juga pengetahuan, wawasan, empati, cara berpikir, fakta dan hal kecil yang kamu tidak sadari sebelumnya.

  • Forced Your Mind to Think Analytically and Critically

Kalau kamu membaca buku nonfiksi, maka otakmu akan dipaksa untuk fokus dan berpikir dengan keras. Karena kalau gak begitu, kamu gak akan paham apa yang mau disampaikan buku tersebut. Jadi, ketika kamu terbiasa dengan hal itu maka secara tidak langsung kamu akan belajar berpikir lebih baik dari sebelumnya.

Dampaknya kamu jadi lebih kritis terhadap lingkungan kamu, bahkan bisa jadi keluargamu juga akan kena akibatnya. Sederhananya, kamu akan mengkritisi perilaku keluargamu yang ex;antipati, atau menghargai pilihan hidup keluargamu yang berbeda dari yang lain.

Kemudian, kamu juga jadi lebih sering belajar untuk memahami sebuah fenomena. Misalnya, ketika kamu melihat sebuah konflik antara teman atau kelompok diskusi. Maka sebelum kamu bicara, biasanya kamu akan cenderung mendengar dan memperhatikan penyampaian orang lain dan memahamianya. Di sini otakmu akan bekerja untuk menarik kesimpulan dari hasil analisis tadi dan kamu pun bisa menjadi pemecah masalah.

Inilah sebab kenapa aku secara pribadi sering mempertanyakan, why question dalam hidupku. Ini penting untuk punya integritas, menjadi mandiri, kuat, dan berani. Kalau sudah punya reasoning of why kamu gak akan takut lagi untuk speak up apa yang menurutmu menyimpang, menyampaikan pendapat yang berbeda, dan menjadi orang yang berpikir bebas, luas dan terbuka. Apalagi di zaman sosial media, saat informasi bisa dengan mudah didapatkan kita jadi sering kebanjiran info. Ini sering bikin kita pusing memilah mana sebenarnya informasi yang benar, akurat dan sesuai. Hasilnya kita jadi sering kemakan klaim MLM, iklan, berita bohong, dan lain-lain. #Thisiscomplicated

Susi Pudjiastuti, “As a woman you should LIBERATE your mind. Karena ada banyak sekali hal yang bisa dilakukan perempuan, mostly 98%. Jangan sempitkan pemikiran bahwa kita sebagai wanita membatasi diri kita sendiri dengan pikiran yang kita ciptakan.”

Hidup itu gaboleh kemakan iklan, stigma, promosi, klaim, katanya, bahkan agama.

So, yap. Menurutku persoalan ini harus kita eksekusi. Karena, kalau kamu tidak mengasah atau memaksa otakmu berpikir dia akan tumpul dan berkarat lalu mati. Personally, aku ga mau otakku mati. 

  • Literate Yourself

Menurut KBBI, arti dari kata literasi itu ada banyak. Tapi yang ingin aku tekankan disini adalah kemampuan dalam mengolah informasi dan representasi bunyi atau kata dalam membaca, menulis atau berbicara.

So, kita tahu bahwa ada sebuah fakta yang mengatakan bahwasannya Indonesia adalah negara kedua dari bawah soal minat baca yang rendah. Is it true? Awalnya aku juga berpikir demikian, tapi setelah aku membaca artikel dari seorang Quorawan yang melakukan penelitian jenjang sarjana soal minat baca di Indonesia. Hal tersebut ia tentang dengan data. I don’t really remember what is looks like (unfortunately, I didn’t save the article L).

Fyi, mari kita bahas sedikit. World’s Most Literate Nations merilis bahwa Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara. Tapi, variabel yang mereka gunakan untuk mengukur hal tersebut adalah perpustakaan, surat kabar, pendidikan dan komputer. Masalah Indonesia yang kompleks, bikin situasi riset makin ribet. Ditambah lagi budaya membaca kita memang berbeda. Menurut Quorawan itu, budaya membaca kita bukan pergi ke perpustakaan melainkan ke toko buku, meminjam teman, dan cara-cara mudah, murah sekaligus nyaman lainnya. Aku sendiri juga setuju, kok. Gimana kita mau ke perpustakaan kalau koleksi perpus kita jadul, ngurus kartu anggota ribet, dan sistemnya ga terintegrasi. Setelah itu, Index Skor Budaya Dunia gamau kalah. Dia bikin penelitian juga soal minat baca orang di dunia, hasilnya Indonesia berada di peringkat 16. Tapi, kita masih belum tahu variabel apa yang di pakai oleh mereka.

Kembali ke topik awal bahwa membaca bisa meningkatkan literasi kita. Ini bukan omong kosong, kok. Misalnya nih, ketika kamu membaca maka secara ga sadar kemampuan kamu dalam menggunakan kosakata dan memilih diksi akan meningkat. Kita ga perlu repot-repot lagi mikir kalimat atau kata apa yang tepat untuk mengutarakan sesuatu, tapi kata itu memang udah tersimpan di dalam memori kita begitu aja. Dalam berbicara juga bisa lebih rapi, terstruktur, dan mudah dipahami. Hal ini lah yang akan meningkatkan kemampuan komunikasi kita juga.

***

Nah, kalau mungkin ada diantara kita ada yang berpendapat. “rajin-rajin baca buku, meskipun novel atau komik. Di mulai dari yang ringan nanti jadi biasa.” Kalau aku memiliki pendapat yang sedikit berbeda, “Temukan buku yang kamu suka dan bijaklah dalam membaca.” Alasannya karena tidak semua buku tepat untuk kamu, tidak semua isi buku harus kamu terapkan, dan tidak semua pemahaman harus kamu tanamkan.

3 poin di atas bisa kita dapatkan dari membaca buku fiksi atau nonfiksi, tergantung bagaimana kita bijak memilih buku. Ada banyak buku fiksi yang rusak isinya, tapi tidak sedikit buku non-fiksi yang cuma omong doang. Realita yang kita hadapai berbeda dari pesan yang ingin disampaikan buku, jadi jangan sampai karena ingin menerapkan isi buku kamu sampai bertengkar dengan pasangan, orang tua atau teman. Kan kacau. Hahaha

Setelah merasa bersalah pada diri sendiri karena lama meninggalakan blog, akhirnya bisa kubayarkan dengan puas. Segitu aja episode opini kali ini. Seperti biasa, aku menerima komentar siapapun yang memiliki pendapat berbeda atau merasakan hal yang sama.

See u!

Komentar

Postingan Populer