Inside a Head of An Overthinker

Suatu hari aku pernah di amanatkan menjadi seorang head project, dalam kasus ini aku adalah anak baru yang masuk ke dalam ranah komunitas. Aku buta soal realita, aku buta soal pengalaman, aku buta soal hal-hal yang berkaitan dengan interaksi dengan manusia. Satu-satunya hal yang kubawa adalah idealismeku sendiri, nilai, kepercayaan dan prinsip yang kutanam. Aku yang introversion akan mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan banyak manusia berbeda, maka sebelum memulai pekerjaanpun batinku sudah tersiksa. Isi kepalaku tidak bisa diam, memikirkan detail kegiatan yang bahkan belum terlaksana. Satu-satunya cara yang bisa kulakukan adalah banyak bertanya. Meskipun membantu, aku masih tidak mengerti mengapa sulit sekali memahami keseluruhan konsep organisasi.

Dari kejadian itu, aku menyadari bahwa aku bukan hanya seorang deep thinker namun juga seorang overthinker. Bagaimana hal ini bisa terjadi padaku? Aku tidak tahu jawabannya. Sebab hal itu adalah sesuatu yang terjadi saja tanpa kuminta. Mungkin mirip seperti membatin di dalam hati atau sekedar berpikir soal sesuatu. Jika orang lain memiliki pemicu dan hanya hal itu saja yang ia pikirkan. Maka isi kepalaku tidak demikian.

***

Aku mendefenisikan overthinking sebagai suatu tindakan berpikir berlebihan yang tidak pernah berhenti dan tidak menyelesaikan masalah. Dilansir dari halodoc, ternyata overthinking merupakan bagian dari gejala OCD atau Obsessive Compulsive Dissorder yang merupakan bagian dari pikiran obsesif dan perilaku yang bersifat kompulsif. Hingga kini masih belum bisa diketahui yang menjadi pemicu OCD, namun hal ini dikaitkan dengan beberapa faktor seperti riwayat keluarga yang sama, trauma dan genetik. Overthinking dapat berupa ruminasi jika berkaitan dengan masa lalu, sedangkan jika berkaitan dengan masa depan artinya khawatir berlebihan.

Whether you’re a world-class player or a weekend enthusiast, improving your golf game begins with your mind. You may be amazed to discover what happens when you free yourself from overthinking your shots and let your unconscious mind play the game.

Marlin Mackenzie (1990)

Seseorang yang berpikir berlebihan, tanpa disadari tengah membuat dirinya dikuasai oleh pikirannya sendiri. Padahal pikiran adalah sebagian kecil dari diri kita yang harusnya bisa kita kuasai. Tapi lucu sekali bahwa sebagian kecil ini, bisa mempengaruhi sebagian besar dari kita.

Sebagai contoh aku ingin menceritakan seorang musisi sukses, masih muda, cantik dan berbakat. Ia bercerita saat melakukan proses wawancara bahwa “aku membenci diriku sendiri, sehingga aku memperlakukan orang lain sama buruknya dengan aku memperlakukan diriku.” Di lain kesempatan dalam sebuah video Instagram, ia berkata lagi “at the end of the day, aku menyadari bahwa ternyata aku tidak seburuk yang aku pikirkan.”

Sebuah studi dari Universitas Michigan menemukan bahwa 52% dari orang-orang setengah baya berusia 45 hingga 55 tahun memikirkan suatu problem secara berlebihan atau mengalami overthinking. Demikian pula sekitar 73% dari orang dewasa usia 25 hingga 35 tahun terjebak di masalah yang sama.

Biasanya orang-orang dengan gangguan overthinking hanya akan mempercayai isi pikirannya sendiri, sehingga pikiran tersebut membawanya pada sebuah problematika yang akan di pecahkan oleh kepalanya sendiri. Ketika realita masalah yang dihadapi tidak sesuai dengan yang dipikirkan, maka si overthinker akan panik dan khawatir.

***

Aku ingin sedikit bercerita, pada masa itu aku sedang mengalami tahun sulit diperkuliahan. Kesulitan ini sampai membawaku jauh pada penurunan berat badan yang signifikan. Buktinya beberapa orang yang mengatakan bahwa aku kurusan banget. At that time, aku menghadapi sesuatu yang sebenarnya tidak ingin aku hadapi. Tapi mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menghadapinya.

Pada dasarnya ketika seorang introvert dan pemikir ini di hadapi oleh sesuatu yang tidak ingin dia lakukan, maka otaknya akan berpikir bagaimana caranya ia bisa menolak semua hal atau melepaskannya secara permanen. Tujuannya agar ia merasa tenang dan tidak berada dalam situasi yang menekan hidupnya, sehingga kemudian yang terjadi justru drama dan kesalahpahaman.

Ketakutanku pada saat itu membawaku pada turunnya selera makan, banyak tidur tetapi tidak nyenyak, berharap aku besok tiada dan dunia akan baik-baik saja. Gila ga, tuh? Aku mau mati aja pokoknya.

Sebelum aku memutuskan untuk bercerita kepada professional, aku melakukan kegiatan yang membuatku merasa sembuh. Menulis, olahraga dan yang baru kucoba pada saat itu ialah meditasi.

Ketika pertama kali mencoba meditasi sesuai petunjuk internet, aku menangis sejadi-jadinya. Hal yang terbesit pertama dikepalaku adalah memori kebelakang ketika aku ada dalam situasi ini dan kemudian menyadari bahwa sebenarnya semua baik-baik saja. Maka sejak saat itu, setiap kali aku gelisah aku memilih untuk meditasi. Aku mendengar banyak musik penenang, suara alam bahkan melakukan fotografi juga sebagai bagian dari healing theraphy.

Namun sepertinya sifatku yang tidak bisa menerima keadaan serta belum bisa damai dengan masa lalu dan diri sendiri masih membuatku percaya pada pikiranku. Bahwa manusia itu menjijikkan dan munafik, kebencianku pada manusia membawaku pada kesimpulan better live alone. Padahal saat itu harusnya aku butuh bercerita dengan teman-temanku. Sialnya aku tidak percaya pada mereka.

I learn alone and find it by my self. Aku banyak membaca artikel, menonton YouTube dan bercerita dalam forum untuk mengetahui masalahku. Saat itu aku mengetahui bahwa aku adalah overthinker. Meskipun sudah kutemukan, alih-alih aku menerima bahwa aku overthinker aku masih tidak terima dengan mengatakan diriku adalah seorang deepthinker. Sesuatu yang mirip tetapi sangat berbeda sebenarnya.

Kemudian saat menonton YouTube GitaSav aku menemukan tautan menarik dari komentar salah seorang yang menyarankan sebuah aplikasi curhat. Tanpa basa-basi, aku langsung mengunduh aplikasi tersebut kemudian memanfaatkan waktu gratis 3 hari semaksimal mungkin. Aku bercerita segala hal dari masa lalu yang menganggu, kejadian masa sekarang dan masa depan yang aku rencanakan dengan cantik dikepalaku.

Dia cukup salut karena aku berhasil mendiagnosis diriku sendiri dengan benar. Dia juga mengatakan bahwa sebenarnya aku juga sudah tahu solusinya apa, bahkan salah satunya juga yang ia sarankan yaitu meditasi. Tapi ada satu hal yang disarankan padaku, sederhana tetapi cukup ampuh.

“Coba setiap kali sikat gigi, rasakan prosesnya. Rasakan pasta giginya, rasakan gerakannya. Begitu juga dengan kegiatan lain, rasakan semua apa yang kamu lakukan saat itu.” Begitu katanya.

Merasa bahwa saran ini cukup aneh dan tidak terpikir olehku, maka aku pun mencobanya karena penasaran. Benar ternyata! Cukup berhasil dan membuatku lebih tenang. Setidaknya tidak panik dan khawatir berlebih.

Sekarang aku paham, bahwa tujuan sebenarnya dari terapi sikat gigi adalah untuk belajar life in present. Hidup pada saat ini saja, fokus pada apa yang bisa kamu lakukan saat ini. Leave the past, and never ever worry about the future. Then, I choose to be present. Namaste!

***

Bagaimana sebenarnya isi  kepala seorang overthinker? Hal-hal yang aku tulis di bawah berdasarkan pengalaman pribadi yang sifatnya subjektif. Kalau kalian ingin mengetahui seperti apa seorang overthinker sebenarnya kalian bisa membaca jurnal yang berkaitan atau artikel yang membahas tentang kesehatan mental.

  • More Think, Do Less

Namanya juga seorang pemikir, normal-normal saja kalau ia lebih banyak berpikir. Tapi kalau sudah berpikir terus dengan sangat sedikit tindakan bahkan tidak ada tindakan sama sekali. Patut dipertanyakan apakah kamu overthinker atau bukan. Dalam kasusku, I think a lot; like so lot, so much. Tindakanku paling jauh cuma jogging, kuliah, tidur.

  • Benang Kusut yang Sulit di Luruskan

Isi kepala yang paling sering menganalogikan bagaimana aku berpikir adalah tumpukan benang kusut. Asdfghjklpomniubytvcrexwzq. Can you imagine? How bad, how scared is it, how terrible and I hate it so much. It’s getting louder everyday and I can’t manage it. Sad song? Relate. Depression? Relate. Padahal aku hanya perlu mencari tahu bagaimana cara meluruskan benang kusut tadi, tetapi alih-alih mencari jawabannya. Aku justru berimajinasi dan tenggelam bersamanya.

  • Membuat Skenario

Salah satu kebiasaan overthinker person adalah membuat naskah drama di kepalanya sampai babak terakhir yang sesuai keinginannya. Padahal dia juga tahu bahwa itu cuma khayalan dan imajinasinya saja, pada akhirnya realita tidak seburuk itu. Tetapi karena dia ahli dalam membungkus cerita, jadilah cerita itu seperti nyata. Sangat nyata sampai pemilik pikiran itu sendiri percaya bahwa itulah yang akan terjadi selanjutnya. Padahal dia juga tidak bisa menebak perilaku dan isi pikiran orang lain.

  • Memungkinkan Kemungkinan

Karena seorang pemikir berlebih suka membuat skenario sampai babak terkahir, maka secara langsung ia juga memungkinkan segala kejadian yang masih kemungkinan. Padahal masih kemungkinan doang, loh. Tapi dia yakin kemungkinan itu pasti akan terjadi.

  • Asking A Lot

Dalam kasusku, aku banyak sekali bertanya. Bukan pada orang lain, tapi pada diriku sendiri dan internet yang justru membuatku semakin bingung bukan main. Mengapa hal ini terjadi? Apa yang haru kulakukan? Bagaimana aku mengatasinya? Dan pertanyaan lain yang justru sulit kujawab.

  • Scared and Got Anxiety

Seorang yang overthinking, pasti akan cenderung cemas dan ketakutan. Ia khawatir akan apa yang terjadi di masa depan dan menyalahkan masa lalu. Setiap kali merasa khawatir kadang anggota tubuhnya akan bergerak tanpa ia sadari, seperti menggoyangkan kaki, menggigit kuku, bermain dengan jari dan sebagainya untuk menunjukkan bahwa ia sedang berpikir dengan keras.

  • I Hate My Brain

Aku jadi membenci otakku sendiri karena kejadian-kejadian dan pola pikir yang tidak aku imani. Pasalnya setiap kali aku berpikir, isi kepalaku terlalu kompleks dan acak sampai aku tidak tahu mana yang harus ku implementasikan dalam tindakan. Saat aku menjadi bingung seperti ini, maka aku akan mengatakan I hate my brain.

  • Hate Human

Mengapa akhirnya aku bisa membenci manusia? Ya karena aku tahu bahwa semua tindakan, masa lalu, kekhawatiranku akan sesuatu selalu di dasarkan pada interaksiku pada manusia. Sehingga apapun yang mereka lakukan selalu kubenci dan salah. Apalagi orang-orang yang membenciku tanpa sebab dan membuatku menangis padahal aku tidak memiliki kesalahan dengan mereka.

***

Sebenarnya ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi overthinking, tetapi kali ini aku akan memberikan solusi yang sudah pernah kulakukan dan terbukti berhasil pada diriku. Lagi-lagi, ini sifatanya subjektif dan personal. Kasus setiap orang berbeda-beda, pola pikirnya berbeda dan yang dipikirkan juga berbeda. Kalian bisa langsung drop to the professional if you need it or find a free forum to talk about your problem.

  • Meditate

Ada banyak sekali jenis meditasi yang bisa kalian lakukan untuk menenangkan diri, tetapi salah satu yang aku lakukan adalah dengan mendengarkan musik relaksasi lalu duduk bersila dan fokus pada aliran pernafasan. Ini mungkin bisa menjadi panduan dasar. Kalaupun ingin tahu lebih banyak, kamu bisa cari di YouTube atau Google.

As a Moslem, aku juga sering mendengarkan Qur’an Recitation sebagai pengingat bahwa Tuhan selalu ada di hatiku. Berdoa dan meminta kemudahan saat selepas ibadah. Feel the emotion, feel every surah that you spell, feel your doa, feel if God as close as when somebody hug you.

  • Feel The Momment

Like I said, enjoy the moment and feel it even when you brush you teeth or poop. Merasakan proses yang terjadi pada saat kamu melakukan kegiatan, akan membuatmu lupa pada rasa cemas dan khawatir. Karena secara tidak langsung, otak kita dipaksa berpikir untuk hal yang hanya terjadi pada saat itu saja.

  • Find Your Sense of Life or Passion.

I ever tell you that writing is a healing for me, also another kind of art. Fotografi, menggambar, melukis, membaca cerita dan bahkan dance is a healing teraphy. Kamu bisa mencoba melakukan sesuatu khusus untuk merasa lebih tenang dan sembuh. Kalaupun pekerjaan kamu adalah di bidang seni, maka kamu bisa menjadikan pelajaran hidup sebagai bagian dari hasil seni. Bisa juga mencoba hal baru yang sama sekali belum pernah kamu lakukan. Intinya selalu berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik, lalu hal-hal yang membuatmu merasa sembuh akan mengikuti bersamanya.

  • Exercise Every Day

Kamu bisa olahraga setiap hari untuk merubah hidup. Semua orang tahu dan percaya bahwa olahraga bisa merubah hidupmu, tetapi tidak sedikit pula yang tidak konsisten melakukannya. Hormon dopamin yang dikeluarkan saat olahraga akan membuat mood kita sepanjang hari menjadi bagus. Tubuh trasa lebih segar dan juga menurutku olahraga itu candu.

  • It’s Okay, Everything Allright

Pada akhirnya semua akan baik-baik saja. Semua akan kembali pada dirimu yang nyaman dan damai. Kembali pada rumah yang kamu tuju, kembali pada bantal guling kesukaanmu. Memangnya kenapa kalau hidup punya masalah? Bukannya memang seharusnya begitu. Memang kenapa kalau kamu stress? Itu wajar. Emang kenapa kalau karyamu jelek? Emang kenapa kalau besok Senin? Hahahaha.

Akhirnya aku sadar bahwa sebagai manusia yang banyak salah dan banyak belajar, memanusiakan manusia adalah jalan terbaik untuk saling memahami dan berempati. Mereka yang marah, barangkali belum bisa damai dengan diri sendiri. Cheers!

Whenever you read this, I hope you always care with yourself more than worrying about uncertainty things. Sometimes, everything just not as bad as you think. Stop expected and less care with something you can't hold. Spread love with your way by photography, writing, arts, volunteering and many social project. Be emphatic, be lovable, be kind and always knowing that people around you is need you more than you can imagine. Especially your self! Your body need you, because is just the only one thing for you to come back. Nor you family or your friend. It's always be you!

Kalau temen-temen semua punya pengalaman yang sama boleh komen di bawah dan beritahu aku pendapat kalian supaya bisa bertukar pikiran. See u at another opini episode!

Komentar

Postingan Populer