Melamar Kerja di Starbucks tapi Tidak di Terima.
Menjadi pelayan restoran berjenis apapun, tampaknya merupakan jenis pekerjaan yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Maka dari itu tingkat turnover di setiap tempat juga cenderung tinggi. Tetapi, ini menjadi keuntungan para pencari kerja. Kalau ditanya apakah aku mau menjadi pegawai Starbucks (barista) saat tamat kuliah? Tentu mau! Pelayan restuaran biasa? Juga mau.
Aku sendiri percaya bahwa sesuatu yang besar memang harus dimulai dari bawah. Wah... Quotable sekali saya. Tapi diluar semua alasan, kalau kalian merupakan seorang lulusan biasa saja. Kalian jangan malu dan gengsi untuk bekerja mulai dari bawah. Karena pekerjaan seperti itu akan melatih kamu secara mental dan fisik sebelum mulai siap sedia dengan tuntutan yang lebih besar. Tetapi, kita juga harus pandai memilah seberapa lama kita bekerja sebagai pelayan sebelum akhirnya mendapat pekerjaan yang sesuai.
Aku melamar kerja di Starbucks karena memang sudah lama sekali aku mengincar pekerjaan ini. Selain karena sistem manajemen yang baik dan sudah terbukti. Aku juga butuh uang seperti yang aku jelaskan di cerita sebelumnya.
Persayaratan bekerja di Starbucks sendiri cukup mudah, kita hanya membawa CV dan terkhusus di tempatku harus membawa Surat Izin Perusahaan sebelumnya bagi yang sudah bekerja dan KHS/KRS terakhir bagi yang masih kuliah.
Sampai disana kita akan diberikan formulir dan ini wajib diisi. Setelahnya seluruh persyaratan tadi dikumpulkan dan nantinya kita akan mendapat nomor giliran wawancara. Nah... Menurutku sendiri di sesi inilah yang paling menentukan apakah kita akan diterima bekerja atau tidak. Tetapi yang aku tahu pasti wawancara akan dilakukan dan menyesuaikan dengan formulir yang kita isi. Pewawancara sendiri juga sangat ramah dan baik.
Aku sendiri juga jujur ketika ditanya mengapa ingin melamar bekerja. Alasanku adalah karena aku membutuhkan uang. Meskipun aku benar-benar grogi dan tidak menyangka jika pertanyaanku akan sedetail itu. Tapi aku tetap berusaha menjawab dengan baik.
Awalnya aku pesimis dan yakin kalau tidak akan masuk ke perekrutan wawancara selanjutnya. Tetapi, beberapa minggu kemudian aku di telfon oleh Starbucks pusat dan diminta wawancara. Sayang sekali saat wawancara itu tiba, telfon dari HRD berulang kali tidak terangkat. Ini karena pada saat itu aku sedang lomba dan hanya memiliki waktu istirahat yang sedikit karena sistem lomba yang berjangka.
Akhirnya aku katakan kalau saat ini aku sedang tidak bisa diwawancarai. Bahkan kami sempat negoisasi soal waktu wawancara dan menyepakati malam itu juga akan di langsungkan. Tetapi mungkin HRD menilaiku tidak serius bekerja di Starbucks karena meminta menunda wawancara. Memangnya saya siapa? wkwkwk.
Tetapi mungkin memang belum rezeki ku untuk bekerja di sana dan aku paham letak kesalahanku. Berpikir akan melamar bekerja lagi nanti. Tetapi semua berubah semenjak Corona menyerang. Starbucks tutup dan tak kunjung buka apalagi membuka lowongan part time. Akupun hanya bisa rebahan sambil mencari pekerjaan lanjutan. eheheh.



Komentar
Posting Komentar