Menjadi Penyayang Sekaligus Pemakan Hewan

Waktu lagi nulis opini ini, aku ke-trigger banget dengan salah satu postingan di media sosial yang menunjukan bagaimana sebenarnya kehidupan hewan di dalam sebuah industri pemotongan daging. Aku paling anti lihat yang beginian dan rasanya ingin cepat segara berhenti mengonsumsi daging. Tapi...

Otak di kepalaku ga stop sampai disitu saat berpikir soal hal ini. Jangan-jangan aku cuma parno sesaat aja. Apakah aku memang akan benar-benar berhenti mengonsumsi daging? Apakah aku akan selalu makan sayuran alias plant based food? Apakah itu memungkinkan mengingat penjual makanan berbahan dasar daging lebih banyak daripada berbahan dasar sayur? Belum lagi keluarga bukan orang yang mudah menerima pola pikir vegan.

Semua pertanyaan itu muncul di kepalaku seperti bayangan yang mengikuti. Sebenarnya tanpa perlu menjadi seorang vegan-pun aku memang sudah suka makan sayur. Bahkan aku bisa muak kalau sehari tiga kali makan cuma pakai gulai ayam. Aku cuma merasa tubuhku sangat tidak sehat. Sayuran buatku udah kaya menu utama yang disematkan di atas piring melebihi porsi nasi.

Tapi heran, deh. Orang Australia dan vegetarian Barat lainnya banyak yang pindah ke Bali karena mereka bilang Indonesia itu ramah vegan. Tapi, masyarakatnya sendiri yang aku lihat lebih doyan makan bakso daripada rebusan bayam. Jelas lah! Baksokan lebih gurih daripada bayam yang hambar. Comparing lu timpang. Sip aku terima. Kalau aku jadi kalian pasti akan mengatakan hal yang sama.

Well... Kalau kita melihat ke belakang, maka ada banyak sekali pengaruh dan alasan mengapa Indonesia bisa ramah vegan. Itu karena budaya dan kebiasaan kita membawa pengaruh seperti itu. Di dukung kondisi tanah kita yang subur dan melimpah ruah akan hasil panen. Dari dulu kakek nenek dan bahkan orang tuaku pernah merasakan makan sebutir telur dibagi delapan bagian per orang. Kita yang dalam kondisi miskin, daging adalah hal mewah dan istimewa. Makanan paling mudah yang bisa kita temui adalah sayuran di pinggir jalan, pekarangan rumah, ladang pribadi bahkan memetik di tanah liar. Masyarakat pribumi era penjajahan pasti mengerti betapa sulit dan mahalnya sebuah daging bagi masyarakat rendah untuk di konsumsi.

Bahkan sebelum terkenal soal edible flower yang bisa di makan. Indonesia sendiri udah makan bunga juga. Contohnya bunga Turi, bunga pepaya, bahkan nenek ku sering masak bunga krokot (idk the real name). Makanan jaman dulu yang awalnya aku benci hanya karena visualnya tidak menarik, pelan-pelan kuterima karena rasanya memang ramah dilidah.

*****

Back to the topic. Kalian kalau melihat seekor kucing atau anak anjing atau hewan lucu lainnya pasti merasa gemas? Iyap. Sama. Hal ini bikin kita jadi enggan menyakiti mereka. (Apalagi sekelas kucingku yang ada di foto. Wkwkwkwk.) Tapi untuk ayam, sapi, kambing dan babi bisa dipotong dan berakhir hidupnya hanya untuk memenuhi nafsu lapar kita. Kenapa? Kok bisa?

Jawaban sebenarnya tidak ada yang bisa menjelaskan. Tapi, menurut Yuval Noah Harari dalam bukunya yang berjudul Sapiens. Manusia atau yang disebut (Homo Sapiens) memang makhluk paling berkuasa dan memiliki pengaruh tersendiri dalam mempengaruhi kelompoknya. Pengaruh yang muncul ini dibentuk berdasarkan imajinasi keyakinan dan kepercayaan yang disebar secara serentak ke semua orang yang ditemui (kalau sekarang disebut influencer). Mengonsumsi daging artinya memberikan simbol bentuk pengakuan atas makhkluk yang lebih lemah dan sebagai kekuatan bertahan hidup. Ini terbukti bahwa saat ini masih ada orang yang percaya bahwa mengonsumsi darah ular bisa meningkatkan imunitas. Memakan daging trenggiling yang langka mampu menciptakan kekuatan bagi kaum pria. What? Udah tu hewan langka, makin langka deh dia. Miris.

Padahal Dokter Boyke sendiri bilang, kalau mengonsumsi obat kuat baik dalam bentuk kimia atau alami tidak ada pengaruh dengan ketahanan atau kejantanan seorang pria. Gaya hidup yang sehat dan banyak olahraga justru mampu meningkatkan ketahanan seorang pria dalam berhubungan seksual. Jadi, gak ada alasan untuk mengonsumsi darah hewan atau makan daging satwa dilindungi. Udah jelas dari sisi hukum lu kalah!

  • Konsumsi Daging yang Meningkat.

Statistik dari UN Food and Agriculture Organizations menunjukan bahwa tingkat konsumsi daging meningkat pesat setiap dekade. Tidak heran jika Yuval berkata, “Sebuah keberuntungan bagi populasi hewan domestik, tetapi tidak dengan hewan liar.”

Alasannya disebabkan karena angka kelahiran yang tinggi dan semakin banyak orang yang harus diberi makan sehingga meningkatlah permintaan konsumsi daging ini. Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, tingkat kekayaan seseorang juga mempengaruhi. Terbukti dari setiap ada acara besar dan perayaan, daging menjadi suguhan istimewa. Mulai dari bagian kepala sampai ekor bahkan kaki.

  • Pemicu Krisis Iklim

Hewan ternak yang membutuhkan lahan luas merupakan pemicu kerusakan alam. Sama seperti di Australia, Brazil atau Selandia Baru. Lahan yang luas tanpa pohon merupakan tempat ideal bagi para peternak untuk mengembangbiakan sapi atau domba. Bahkan Brazil membiarkan banyak hutan ditebang hanya untuk membuka lahan sapi. Konflik ini cukup krusial antara pemerintah sekaligus masyarakat. Di saat kemiskinan harus diselesaikan, tetapi krisis alam justru menjadi taruhan. Emisi gas yang dikeluarkan dari lahan peternakan juga menjadi salah satu faktor mengapa para aktivis lingkungan hidup tidak setuju akan pembukaan lahan baru.

  • Keinginan Menjadi Vegetarian/Vegan.

Aku sering menonton dokumenter dari sebuah organisasi pecinta hewan dunia, peta.org. Di Instagram mereka menunjukkan betapa mengerikan dan menjijikannya industri peternakan. Baik yang untuk dikonsumi, digunakan sebagai fashion item, atau untuk penelitian manusia.

Peta menampilkan video dan foto bagiamana nuget ayam yang sering kita konsumsi dibuat. Mereka menunjukkan bagaimana hewan menangis hanya karena dipaksa berpisah dari induknya. Kemudian sesuatu yang paling membuatku merindung adalah, kelinci angora hidup yang bulunya ditarik paksa. It’s horrible!

  • Tontonlah Film Dokumenter dan Lihat Faktanya.

Ada banyak sekali film dokumenter yang menunjukkan bagaimana sebenarnya dibalik industri peternakan, salah satunya Cowspiracy. Berkisah tentang industri peternakan daging sapi yang dipimpin oleh sebuah organisasi raksasa demi keuntungan yang melimpah. Kemudian ada What The Health dan Earthlings. Selain itu IDN Times juga memberikan lima rekomendasi film yang bisa menepis stigma soal vegetarian/vegan.

  • Jauh dari Penyakit.

Kolesterol, darah tinggi, jantung, diabetes merupakan penyakit sejuta umat yang tidak lagi melanda kaum tua tetapi juga kalangan muda. Apa yang menjadi pemciunya tidak lain adalah gaya hidup tidak sehat. Kita sangat terbiasa disuguhkan makanan yang berasal dari hewani sehingga apa yang kita konsumsi adalah apa yang paling mudah dijangkau. Seperti sate, mi ayam, bakso, nasi goreng, ayam goreng, dan lain-lain. Kemudahan jangkauan makanan ini di tambah dengan kebiasaan makan di malam hari (di atas jam 7/8 malam). Jika dibiasakan, maka tidak menunggu waktu lama penyakit seperti di atas akan mucul.

*****

Sebenarnya, menjadi seorang vegan atau vegetarian adalah dilema. Artinya, ketika aku memutuskan memulai gaya hidup  plant based maka ekor yang mengikutiku di belakang bukan lagi soal gaya hidup sehat. Tetapi dampak lingkungan hidup, isu kesejahteraan sosial, ekonomi, kepercayaan, dan budaya. Ini yang membuat semuanya menjadi lebih sulit. Mungkin tidak sekarang, tetapi aku tahu suatu saat aku akan memulai gaya hidup vegetarian. Selain lebih sehat, jika suatu saat bepergian ke luar negeri maka aku tidak perlu bersusah mencari daging halal tetapi hanya cukup mencari restoran vegetarian. Otomatis tidak ada campur aduk makanan tidak halal di dalam satu kuali ketimbang saat mengunjungi restauran biasa.

Meskipun begitu ada banyak sekali hal yang perlu dipertimbangkan sebelum menjadi seorang vegan/vegetarian. Apakah ketika aku menjadi vegan maka masalah di atas akan benar-benar teratasi? Apakah ini adil untuk peternak kecil di desa? Apakah memang semua peternak berlaku keji pada hewan ternaknya? Apakah ini akan benar-benar tepat untuk tubuhku? Apakah aku hanya ingin berhenti mengonsumsi sapi, ayam, kambing, tetapi tidak dengan makanan laut? Apakah makanan turunan hewani seperti susu, keju, madu, telur dan mentega total tidak aku konsumsi?

Menjadi vegan artinya mempertaruhkan seluruh hidupku pada new totally habits. And that's not easy bro! 'Till I know this is really worth it maybe I still eat animals. Tapi, mungkin aku akan mengurangi/tidak lagi sama sekali mengonsumsi daging sapi, kambing, atau ayam. Melainkan ikan, susu, madu, telur dan lain-lain.

Just for your information, vegan dan vegetarian itu berbeda! You can read the differences by simply clicking this sentences.

Itu aja dan thanks udah baca blog aku. I'll be back with another opini episodes every Wednesday!

Komentar

Postingan Populer