Mengapa Aku Jemu dengan Organisasi?
Sebagai perempuan introversion yang tidak banyak punya kenalan apalagi teman. Demi masa depan aku dituntut memliki relasi dan pengalaman. Katanya, ikutlah organisasi agar hidupmu berguna dan tidak kuper. Daripada kuliah terus ga tahu apa-apa, lebih baik ikut kegiatan di luar supaya punya koneksi.
Katanya itu pun aku ikuti dengan seksama. Satu dari lain alasan yang membuatku ikut organisasi adalah keinginanku untuk kuliah keluar negeri, mendapat pekerjaan yang baik, dan sekelumit alasan klise penyemangat lainnya. Layaknya mahasiswa baru yang naif lagi polos. Ucapan senior kadang ada benarnya, meskipun aku tahu itu semua omong kosong. Beberapa ada yang sok memimpin, beberapa ada yang mengayomi, sisanya hanya tepe-tepe (tebar pesona). Ehehehe.
Setelah mencoba menjajal berbagai macam jenis kegiatan di luar. Akhirnya aku belajar dan mengambil kesimpulan bahwa manusia itu beragam dan tidak semuanya hebat seperti yang kubayangkan. Sebelumnya aku pernah berfikir, mengikuti organisasi artinya aku akan menemukan orang-orang berwawasan luas, berpikir terbuka, hebat dan cendekia. Nyatanya tidak juga. Sempat kecewa tapi yasudah.
Ini adalah beberapa alasan yang secara personal membuatku jemu dengan organisasi:
- Jam Karet yang Beneran Ngaret.
Demi Tuhan. I have no words to tell. Ketidaktepatan waktu orang Indonesia memang terasa sekali saat aku mengikuti organisasi. Kegiatan bisa tertunda satu jam hanya untuk menunggu, lalu hadir dan mengucap maaf sembari duduk tidak enak padahal itu pencitraan. Bahkan aku masih bisa membaca satu bab buku sembari menunggu. Ampun dah!
- Organisasi yang Tidak Terorganisir.
Kepada organisasi yang baru terbentuk khususnya. Saya paham Anda masih belajar begitu pula saya. Menemukan orang yang bertanggung jawab penuh, rela belajar dan mengorbankan waktunya memang teramat sulit. Tetapi, satu hal yang saya tahu. Jika pemimpinnya benar, aku bisa pastikan bawahan tidak semena-mena apalagi menganggap remeh. Titik poin ada di ketua. Menurutku seperti apa pemimpinnya menunjukkan seperti apa komunitasnya.
- Penanggung Jawab yang Tidak Bertanggung Jawab.
Kebanyakan dari mereka hanya ingin mengambil jabatan untuk diri mereka sendiri, bukan demi kepentingan bersama. Tidak sadar jika menjadi seorang pemimpin bukanlah pekerjaan mudah, tetapi justru berat. Mereka tidak sanggup tetapi mengambil posisi jabatan. Ada juga yang merasa sanggup tetapi justru berantakan. Berbagai macam orang kutemui jarang sekali ada yang konsisten, idealis, berpinsip dan tegas serta bertanggung jawab penuh.
- The Power of Kepepet
Kekuatan ini sering muncul ketika hari kegiatan sudah dekat. Entah itu seminggu sebelum atau beberapa hari sebelum. Semua orang bertanya dan panik serta muncul untuk ikut berpartisipasi. Padahal sebelum-sebelumnya lebih dibutuhkan daripada hari ini. Tapi, baiknya mereka sangat mau diajak membantu dan bergotong royong. Well... Itu memang sifat asli orang Indonesia.
- I Can’t Deal With Those People
Entah mengapa, setiap kali aku mengikuti organisasi. Ada saja manusia yang menatapku dengan tatapan sinis, benci, atau jijik. Aku yang lelah dengan wajah-wajah itu, kadang-kadang di sela kegiatan selalu mencari waktu untuk duduk sendiri di tempat yang jauh dari keramaian mereka. Sampai kadang, orang-orang bertanya. Kenapa kok sendiri? Itu karena aku sudah lelah lahir batin. Wkwkwk. Beberapa kali juga setelah kegiatan usai. Aku menangis di suatu tempat karena aku muak. Jika aku harus melakukan rapat evaluasi, aku cenderung diam dan memperhatikan sambil berpikir kapan ini usai sebab aku sudah rindu laptopku.
- Bertolak Belakang dengan Prinsip.
Beberapa kegiatan yang kuikuti, ada yang hati ini sama sekali tidak ingin terikat lagi saat baru pertama bertatap muka. Mulai dari orang-orangnya, visi misi, prinsip organisasi, dan banyak hal yang sering membuatku berkata, “apaansih.”. Jujur aku tidak terlalu bangga menjadi bagian dalam sebuah komunitas/organisasi. Menjadi bagian dalam organisasi artinya dtuntut aktif, rela berkorban, bertanggung jawab dan sama-sama berjuang demi idealisme satu kelompok. Namun, aku bukan tipikal yang seperti itu.
*****
Alasan tadi merupakan beberapa poin mengapa aku merasa jemu dengan organisasi. Apapun yang baru kutuliskan, semua berawal dari keingintahuan. Tentu hal ini terjadi dengan alasan dan juga mempengaruhi masa depan. Hingga detik ini aku bersyukur berkenalan dengan proses pencarian yang sering memakan kekecewaan, lelah, tangis, dan kesulitan. Sebab dari semua yang pernah terjadi, akhirnya akupun mengerti. Bahwa di masa depan nanti ada hal yang harus kulakukan dan ada yang tidak kulakukan berdasarkan apa yang kurasakan dan terjadi hari ini.
Hari ini aku mengerti, menjadi diri sendiri justru lebih baik daripada mengikuti arus globalisasi dan kapitalis yang sering kali menuntutmu lebih daripada kesanggupanmu padahal dunia hanya membuatmu kecewa. Berjuang beratus kali, gagal juga beratus kali. Mencari pengakuan dan akutualisasi memang tidak akan pernah mati. Jadi, kalau kamu memang tidak nyaman dan tidak suka dengan organisasi. Sah buat kamu untuk berhenti dan hak tersebut milikmu sepenuh hati.
Setiap orang punya level kekuatan mentalitas yang berbeda. Jadi, jika hal baik yang disarankan orang lain justru membuatmu tidak baik. Lebih baik lepaskan, sebab kamu dan dia tidak sama. Orang yang tidak mengikuti organisasi belum tentu tidak berkualitas, begitupun sebaliknya. Kamu ingin jadi manusia biasa juga sah-sah saja. Sebab dunia ini terlalu kompleks untuk idealisme motivator yang berkobar.



Komentar
Posting Komentar