Tentang Orang Tua

Tulisan ini merupakan wujud ekspresi sekaligus pesan dariku dan untukku, untuk orang tuaku, dan untuk siapapun yang membacanya. Tujuan kutuliskan pesan ini adalah tidak lain untuk menemukan damai di dalam hati mengenai keluh kesah seorang anak yang hidup dan tumbuh dari orang tuanya sendiri. Soal kepribadian, sifat, watak, dan tingkah laku yang berbeda dan bagi yang merasa rumah tidak seperti rumah. Sebuah persepsi pribadi tentang bagaimana aku melihat ini semua melalui kacamatku. Sebagai perempuan dan anak sulung, sebagai manusia biasa, sebagai individu, sebagai masyarakat dan sebagai bagian dari ciptaan Tuhan.

Aku tidak akan membagikan tulisan ini kendati kamu sendiri yang datang dan membukanya. Karena cerita ini akan sangat personal dan semoga kamu semua bisa bijak dan mengambil pembelajaran.

***

Aku tidak pernah terpikir akan menjalani hidup yang seperti ini, begitupun kalian semua. Terkadang apa yang kalian harapakan terjadi tidak pernah terjadi dan semua yang datang pasti pergi silih berganti. Selama hidup kalian, orang tua pasti memiliki peran besar dalam hidup kalian. Entah peran itu antagonis atau protagonis. Mereka tentu yang membentuk kepribadianmu seperti saat ini. Mereka yang mempengaruhi pola pikirmu dan membentuk perilakumu di masyarakat. Tanpa kita sadari, semua yang kalian lihat dari orang tua kalian sudah kalian tiru sejak kalian masih dalam pangkuan dan belum bisa berjalan.

  • Mereka Melakukan Hubungan Seks dan Lahir Kamu.

Tidak ada yang bisa mengelak jika  tagline di atas memang benar. Kemudian tanpa sepengatahuanmu tiba-tiba kamu sudah tumbuh besar dan memori yang  muncul saat kecil seperti di dalam mimpi. Emosi yang kamu rasakan sama persis dan masih melekat. Kamu bisa merasakan pernah kecewa dengan orang tuamu, pernah merasakan bahagia dengan orang lain, dan emosi lainnya. Meskipun gambaran itu hanya seperti bayangan imajinasi, tapi emosi yang kamu rasakan benar-benar nyata seperti apa adanya saat itu. Kemudian saat kamu dewasa kamu sadar dan kadang-kadang bahagia atau justru memaki kenapa kamu harus lahir atau bersyukur karena kamu lahir. Kehidupan yang mengikutimu kadang kala seperti air beras yang dikira susu. Kamu pikir orang tuamu akan menjadi orang tua ideal, namun fakta justru sebaliknya. Kamu pun berpikir tentang hubungan antara orang tuamu dan bagaimana mereka bisa sampai berhubungan seks. Apakah kamu anak haram? Apakah kamu anak yang diiginkan? Apakah kamu anak yang sesuai harapan? Bukan salah kamu jika kamu berbeda, mungkin orang tuamu saja yang berekspektasi normal tentang kamu? Nyatanya dunia membenturkannya juga. Atas nama kehidupan yang lebih baik dan orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Maka kamu pun hidup di bawah naungan dan aturan kedua orang tuamu.

  • Mereka Membesarkanmu, Kemudian...

Sejak kamu kecil, kedua orang tuamu yang mengurus dan membesarkanmu entah dengan cara yang benar atau salah sampai kamu tumbuh menjadi manusia dewasa. Mereka merasa apa yang dia lakukan dan yang sudah di berikan adalah bentuk pengorbanan bukan kewajiban sehingga ketika dewasa kamu dituntut membalas jasa mereka. Pembalasan jasa ini dilakukan karena itu merupakan hal yang wajib bukan karena tulus keinginanmu, tetapi karena sosial dan orang tuamu menuntut seperti itu maka kamu melakukannya kadang dengan terpaksa. Kendati kehidupanu sendiri belum tercukupi kamu tetap harus melakukannya.

  • Mereka Khawatir atau Takut?

Kadangkala semua hal yang kamu lakukan sering kali berada di bawah komando kedua orang tuamu. Ada seseorang yang sampai tidak punya pilihan karena orang tuanya terlalu ortodok dan otoriter. Meskipun kedua orang tuaku tidak seperti itu, tetapi tetap saja mereka takut jika kami memiliki pilihan hidup diluar orang normal pada umumnya. Mereka takut jika kami memiliki nilai jelek di sekolah, mereka takut jika kami tidak bisa matematika dan bahasa Inggris dan ketakutan normal pada umumnya. Sayangnya ketakutan itu benar terjadi karena anaknya memiliki pilihan hidup dan pola yang berbeda dan terbukti mereka kesulitan mengendalikannya. Kelemahan yang tidak diantisipasi oleh orang tua kebanyakan dan orang tuaku juga. Sampai-sampai aku berpikir apakah mereka ketakutan atau khawatir?

  • Mereka Ingin Kamu Sukses?

Semua orang tua menginginkan anaknya menjadi sukses. Pasti! But what they do except make us go to school? Oke. Sangat klasik dan normal ketika orang tua menggiring kita ke sekolah, mengajarkan kita untuk patuh, bersikap baik dengan guru, mendapat nilai bagus, kemudian menjadi juara. Sah-sah aja kalau anaknya mau dan memang berbakat di dunia pendidikan, tetapi tidak semua anak mau melakukannya. Apa yang harus orang tua perhatikan adalah apa yang menjadi isu ketertarikan kita pada saat itu. Apa yang membuat kita bahagia dan melakukannnya berulang kali. Apa yang sangat-sangat kita senangi sejak dini.

Apa yang dilakukan orang tua kita mungkin sudah terbaik di mata mereka, tapi belum di mata kita. Zaman berbeda dan tantangan berbeda. Apa yang kita lakukan dan hadapi juga pasti berbeda. Kita menghargai mereka karena sudah memberikan yang terbaik. Meskipun tidak mendukung secara materi setidaknya kami sangat dan teramat sangat menginginkan dukungan psikologis. Meskipun kalian miskin dan tidak mampu menghidupi kami, tetapi kami masih memiliki pola pikir dan perilaku yang dihargai.

Aku sendiri tidak butuh pernyataan konyol, tidak butuh nasihat lama, tidak butuh saran dan muncul pernyataan atau pertanyaan yang menimbulkan perdebatan. Hanya sesederhana solusi. But, you’ll simply don’t show it.

  • Mereka dan Zaman

Mereka hidup di zaman yang berbeda dengan kita. Mereka jauh berbeda dengan kita berpuluh-puluh tahun lamanya. Mungkin mereka tidak melihat masa depan karena mereka terlalu sibuk bekerja dan memenuhi kebutuhanmu untuk masa depanmu. Mereka memahami segala hal di masa lalu dan kadang membandingkan dengan keadaan saat ini seolah apa yang mereka rasakan sekarang adalah tidak baik.

Aku pikir setiap orang tua perlu untuk melek zaman dan mengikutinya. Terserah apakah mereka ingin bermain TikTok, bermain media sosial, atau sekedar menonton YouTube atau apapaun yang bisa mereka lakukan di ponsel mereka. Tetapi disayangkan sekali mereka dengan ponselnya tidak memperhatikan trend, gaya hidup, perkembangan teknologi, belajar psikologi, belajar bisnis, saham, atau sekedar belajar hal baru untuk memahami dan menyelami dunia yang ia jalani saat ini. Daripada hanya mendengarkan politik tak berujung yang menuju pada perkara persepsi perdebatan tak berkesudahan.

Zaman mereka hidup dengan kita tentu berbeda. Mereka harus mengikuti perkembangan zaman jika tidak ingin tertinggal, tetapi kita juga perlu paham dan belajar seperti apa kehidupan di zaman mereka. Dari sana kita bisa mengerti dan setidaknya tidak mudah judging mereka dengan klaim bahwa mereka kadang-kdang tidak tahu apa-apa.

  • Mereka dan Masa Lalu

Orang tua dan masa lalu adalah sama seperti kamu dan masa lalu kamu. Apa yang terjadi denganmu di masa lalu tentu sangat mempengaruhi bagaimana kamu memandang sesuatu dan berperilaku. Bagaimana kamu mengatasi masalah dan memandang masalah serta solusi apa yang kamu berikan.

Masa lalu mereka bisa menjadi semacam sistem pencerah bagi kamu dan kita untuk mengerti mengapa mereka berperilaku seperti ini. Tetapi, lagi-lagi ini sangat tergantung seberapa sering orang tua mengajak diskusi dan berani terbuka terhadap anak-anaknya sehingga mereka paham apa yang sedang terjadi dengan keluargnya sendiri. Tidak membiarkan kami menjadi apatis, tidak peduli, hanya patuh karena takut, dan perilaku lain yang sama sekali tidak berarti.

  • Mereka dan Kamu

Orang tuamu dan kamu adalah buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya. Kamu mirip dengan mereka tetapi pola pikirmu bisa berbeda dan tujuanmu juga berbeda. Lingkungan tempat kita tumbuh juga berbeda, apa yang kita lihat berbeda, dan banyak lagi mungkin  yang berbeda. Tetapi apa yang sama adalah sifat dasar kita yang kita lakukan berulang kali  tanpa kita sadari adalah tiruan dari kedua orang tua kita.

Sopan santun, ucapan kasar, bermain tangan, etika, kasih sayang, kelembutan, kepercayaan diri dan semua sifat dasar ini bisa jadi dibentuk antara ikatan yang kuat dan hubungan yang terjadi berulang selama bertahun-tahun antara kamu dengan orang tuamu.

Aku kasar? Yes. Karena orang tuaku juga begitu. Aku tulus? Karena orang tuaku juga begitu. Aku biasa mendengar kalimat bangun tidur yang mengejutkan dan membuat jantung terasa turun. Aku biasa merasakan pukulan di kepala, kejutan amarah dan kata-kata sarkas lain yang mungkin untuk beberapa orang tidak layak. Tapi aku terbiasa dan menjadikan itu biasa.

  • Mereka dan Kamu Duduk Bicara

Kapan terakhir kali kalian duduk sama-sama dengan keluarga berdiskusi soal masa depan dan tujuan hidup atau apapun? Kalau pertanyaan ini untukku maka jawabannya aku tidak tahu. Bahkan sampai saat ini aku masih berusaha mengingat-ingat kapan terakhir kali aku berdiskusi kecuali di meja makan saat ibuku sedang masak itupun tidak lengkap dan sedikit terpaksa.

Aku jarang menemukan sesuatu yang emosional dan berbobot dalam perbincangan kami. Ayahku yang selalu ingin dihargai, ibuku yang kasar, dan semua hal ini terasa aneh jika duduk bersama lalu berdiskusi. Bagaimana tidak? Semua merasa benar dengan pendapatnya masing-masing. Semua merasa apa yang mereka pikirkan benar. Tidak ada yang mendengar apa yang kami rasakan dengan seksama. Akhirnya bekerja dan melakukan semua hal sendiri adalah ketergantungan yang tidak bisa dilepas.

  • Sekarang, Kamu dan Mereka.

Orang tuamu, kamu dan masa saat ini adalah sebuah takdir yang tidak bisa ditolak. Kamu tidak bisa merubah apapaun kecuali satu hal. Apa yang bisa kamu lakukan? Hal kecil atau besar yang bisa kamu lakukan. Keputusan apa yang bisa kamu lakukan. Respon apa yang akan kamu tunjukan. Satu-satunya hal yang bisa kamu kontrol adalah dirimu sendiri.

Maksud yang aku ingin sampaikan adalah sekasar apapun orang tuamu, seracun apapun, sebaik apapun, seideal apapun mereka. Satu-satunya hal yang bisa kamu lakukan adalah mengontrol dirimu sendiri.

Hidupku tidak mengerikan, tapi juga tidak baik-baik saja. Aku dan keluarga seperti ada tembok pembatas, tapi yang aku lakukan adalah mengontrol diriku sendiri. Aku ingin apa dan seperti apa lalu apa yang bisa aku lakukan untuk tetap dealing dengan mereka. Tidak mudah tetapi aku berusaha.

Manusia dalam sebuah keluarga kadang seperti orang asing, dan orang asing kadang seperti keluarga. Kamu mau menampar hidup karena memberimu keluarga seperti itu? Atau bersyukur karena karena keluargamu? Kamu tidak bisa memutarbalikkan fakta dan kamu memang harus menghadapi mereka.

****

Siapapun kamu yang membaca ini. Aku kenal kamu atau tidak. Satu hal yang harus kamu tahu bahwa kita mungkin sama tapi kita juga pasti berbeda. Pasti! Jangan bandingkan hidupku, tulisanku, atau kalimat yang aku lekatkan disini. Karena kita serupa tapi tidak sama.

Komentar

Postingan Populer