Rasanya Mencari Kerja Saat Corona
Hola! It's me Zhe and welcome. :)
Kisah pencarian kerja bermula saat aku menyadari bahwa kebutuhanku berkarya memang memerlukan uang agar bisa berjalan lebih leluasa. Jelas bahwa aku tidak bisa bergantung pada beasiswa, akhirnya aku memutuskan untuk bekerja dan berhenti dari hiruk pikuk organisasi yang membuatku jengah.
Awal mula aku melamar di Starbucks dan diabaikan secara halus karena telepon dari HRD yang lama terabaikan akhirnya ku angkat hanya demi mengatakan bahwa aku sedang lomba dan tidak bisa diwawancarai saat itu. Savage banget. Wkwkwk...
Saat diajukan menjadi Ketua Komunitas pun akhirnya kutolak baik-baik dengan alasan aku ingin bekerja. Saat itu pun masih sangat dilema dan ragu, keinginan untuk berkarya ke lingkungan dan sosial yang berdampak masih kugenggam erat sampai sekarang. Tapi hidup tetaplah pilihan.
- Saat Covid-19 Melanda.
Maret 2020 masyarakat sudah mulai mencium aroma Covid-19 yang semakin meluas dan membuat kepanikan. Sementara baru seminggu masuk kuliah, kami sudah dirumahkan dan belajar via daring secara mandiri. Keadaan ini membuatku dan teman-teman sempat kewalahan di awal karena tidak terbiasa. Meskipun pada akhirnya mulai merasa nyaman, tapi tetap saja pelajaran terasa sulit diserap dan dipahami. Belum lagi menghadapi dosen yang seringkali berperilaku ada-ada saja. Duh!
Pandemi membuat mahasiswa di semester akhir seperti uring-uringan tidak jelas diburu paket kuota dari kampus dan uang kuliah yang tetap sama. Sambil menunggu proses pencairan beasiswa, akupun berusaha mencari akal agar peruntunganku tidak bergantung pada THR lebaran atau uang saku dari ayah yang tak selalu ada. Ehehe.
- Mulai Mencari Kerja
Demi Tuhan, mencari kerja di awal pandemi sangatlah sulit dan penuh persaiangan. Aku sendiri memang terfokus pada pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah, tetapi memang tidak menutup kemungkinan untuk jenis lainnya. Awal-awal mencari kerja, aku fokus pada pekerjaan di bidang tulis-menulis yang sesuai dengan passion-ku. Tetapi yang dicari adalah para profesional yang sudah menguasai bidang ilmu tersebut. Sederhananya aku yang pemula selau ditolak mentah-mentah bahkan diabaikan. Baik itu chat pribadi atau email.
Aku ingat awal sekali aku mencari di mesin pencarian Google dan menemukan sedikit sekali pekerjaan untuk para penulis konten. Kebanyakan dari mereka berdomisili di luar Sumatera, sekitar Jakarta dan Yogyakarta. Sampai akhirnya aku menemukan salah satu start up di Medan membuka lowongan untuk copy writing. Namun lamaranku berakhir tanpa panggilan juga. Sampai seluruh iklan lamaran pun dicoba tanpa sisa meskipun aku sendiri memiliki intuisi kalau lamaran awalku ini akan di tolak mentah-mentah. Yah... Tidak apa. Baru mulai ditolak itu biasa.
Setelah mengirim banyak lamaran, akhirnya aku menemukan lowongan dari mesin pencarian tentang pekerjaan penulis konten yang pasti diterima. Katanya sih akan dilatih dulu sebelum mulai bekerja. Hmm. Akupun mengajukan lamaran, tapi lagi-lagi email tak kunjung muncul begitupun pelatihan terasa omong kosong. Aku pikir kalaupun memang ini info bodongan, untungnya aku sama sekali tidak dirugikan secara materi. Ternyata tidak, akhir sekali baru kutemui kalau sebenarnya server mereka sedang bermasalah dan tidak bisa menampung email yang tertumpuk.
Jauh setelahnya aku move on dan melamar berbagai jenis pekerjaan lain yang kumulai dengan pekerjaan rendah. Apa saja asal aku bisa mendapat uang untuk kebutuhan karya-karyaku ini. Aku mulai melamar kerja sebagai barista di cafe, pelayan toko, part time dari rumah, magang dan freelance. Wah.
Semua lamaran pekerjaan selalu diabaikan bahkan di tolak karena sudah penuh. Saat pandemi dimana banyak orang kehilangan pekerjaan, kesempatan lowongan pekerjaan yang terbuka lebar jelas pasti sudah di babat habis oleh mereka yang sudah berpengalaman dibandingkan para fresh graduate. Apalagi pencari kerja paruh waktu seperti aku.
- Mendapat Pekerjaan
Setelah bergumul dengan berbagai drama pekerjaan dan bolak-balik mengutak-atik CV agar terlihat sesuai dengan kebutuhan pencari kerja. Akhirnya aku mendapatkan pekerjaan sebagai penulis lepas di salah satu media yang baru terbentuk, memang bayarannya tidak seberapa bahkan masih dikatakan murah. Tetapi ini sangat menguntungkan demi portofolio untuk pekerjaan yang lebih baik.
Di balik cepat dan ketatnya persaiangan pekerjaan, entah kenapa aku merasa justru sekitar bulan Mei dan Juni situs dan akun penyedia informasi pekerjaan banyak memposting dan memberikan info soal lowongan. Hampir setiap buka Intagram selalu muncul pemberitahuan pekerjaan baru, bahkan sampai saat aku mengedit tulisan ini.
Meskipun banyak diantaranya yang tidak memungkinkan karena kondisiku yang masih kuliah, akupun mengabaikan beberapa yang syaratnya terlalu berat dan jauh dari kualifikasiku. Tetapi, tidak menutup kemungkinan untuk mendaftar pekerjaan yang sesuai kualifikasi sekalipun di luar kota.
Intinya asal sesuai kualifikasi, meskipun itu magang, freelance, part time, dimanapun lokasinya asal ga aneh-aneh pasti tetap dicoba. Salah satunya di Bentang Pustaka kemarin yang berlokasi di Bekasi, meskipun agak terlambat dari batas penerimaan tetapi aku tetap mencoba ikut melamar dan mengejar seluruh syarat dalam satu malam.
Sebenarnya aku cukup nekat mencari kerja saat pandemi, sedang kuliah, dan orang tua agak sulit diajak negoisasi. Tapi, syukurnya aku malah menemukan pekerjaan lepas yang bisa dikerjakan dari rumah dan menguntungkan dari segi karir penulis jangka panjang.
Gracias, amigos! See yaaaa...



Komentar
Posting Komentar